Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts

Saturday, September 10, 2011

Berbagi Tradisi dalam Silaturahmi

IDUL FITRI atau biasa disebut Lebaran memang identik dengan istilah mudik atau pulang kampung ke kampung halaman. Tahun ini, ada yang berbeda dengan momen Lebaran saya. Jika orang lain mudik ke kampung halaman masing-masing, kali ini saya tidak mudik ke kampung orang tua (sebenarnya sih saya memang tidak pernah mudik. Hiks.), tapi saya mudik ke kampung orang.

Nah, untuk acara mudik kali ini, mau tidak mau saya (seharusnya) harus tahu tradisi bertamu ke kampung halaman orang, apalagi jika bertamu dan bermalam. Dari perjalanan ini saya jadi tahu bagaimana tradisi dan adat istiadat masih dipegang erat oleh orang yang tinggal jauh dari kota besar bernama Jakarta. Dan hal ini semakin jelas keberadaannya ketika kemarin saya bertamu ke rumah salah satu teman di tsanawiyah.

***

Perjalanan ini bermula pada t anggal 2 September lalu. Saya pergi mudik ke Subang, kampung salah seorang teman, dengan dua orang teman dari Jakarta. Sebenarnya, menurut saya perjalanan ini cukup mendadak. Beberapa hari menjelang hari raya Idul Fitri, salah satu dari kami merencanakan perjalanan ini dan jadilah tanggal 2 September sebagai tanggal keberangkatan saya dan yang lainnya dari Jakarta.

Seperti biasa, target utama kami setiap mengunjungi “sarang komunis kedua” ini adalah rimbunan hijau berupa bukit yang siap kami daki untuk menikmati ciptaan Tuhan Yang Mahaindah. Rencana awalnya, kami hanya ingin tinggal di sana semalam saja. Tapi ketika tiba waktunya pulang, ternyata kami kehabisan bis tujuan Jakarta (terminal Kampung Rambutan). Akhirnya, ya…, mau tak mau kami kembali membongkar tas masing-masing dan menunda kepulangan kami untuk keesokan harinya.

Saat saya dan tuan rumah tiba, saya langsung masuk ke kamar untuk kembali beristirahat. Sementara itu, teman saya yang menjadi tuan rumah pergi ke luar kamar cukup lama. Dari kamar, terdengar perbincangan teman saya dengan ayahnya, tapi hanya samar-samar. Sesampai di kamar, mulailah teman saya ini menceritakan apa yang dibicarakannya dengan ayahnya di luar kamar. “Adat istiadat bertamu orang sini (baca:Ciater),” katanya. Dari sinilah perbincangan kami berdua seputar tradisi bersilaturahmi dari daerah masing-masing.

***

Pembicaraan ini bermula ketika ayah teman saya berbicara dengan teman saya dan menanyakan asal kami, terutama yang lelaki. Saat mendengar kami berasa dari Jakarta, sang ayah kurang lebih menjawab dengan bahasa sunda yang artinya, “Oh, pantesan. Polos banget.” Karena tidak mengerti dengan maksud ayahnya, saya bertanya apa arti polos dalam jawaban ayahnya.

Sambil tiduran, teman saya menceritakan maksud jawaban dari ayahnya. Jadi, maksud polos di sini adalah cara bertamu yang seperti anak kecil; datang bertamu ke temannya (saja) dan cuek dengan orang tua temannya.

Ternyata, tradisi bersilaturahmi atau bertamu di tanah sunda ini sangat berbeda dengan di kota besar seperti Jakarta yang sudah melebur dengan tradisi barat. Berdasarkan cerita teman saya, biasanya kalau ada anak muda yang bertamu, orangtua temannya harus ikut menemani tamu anaknya. Dan yang tidak saya sangka, orangtua bukan hanya menemani, melainkan juga mengajak tamu anaknya berbincang. Sehingga, tamu anaknya tak hanya menjadi tamu anaknya, melainkan juga menjadi tamu semua orang yang ada di rumah, termasuk orangtua.

Tak hanya itu, di sini pun ada tradisi yang (menurut saya) hampir sama dengan tradisi orang Jawa. Yakni ketika ada anak dan orangtua yang sedang berbicara, posisi si anak harus lebih rendah dari orang tua. Jadi, ketika orang tua duduk di atas bangku, kami sebagai yang lebih muda harus duduk di lantai atau tidak duduk sama sekai. Bahkan di sini antara orangtua dan anak tidak diperkenankan untuk duduk dalam satu bangku yang sejajar. Katanya, lebih baik duduk di bangku yang berbeda, kalau tidak ya seperti tadi, duduk di lantai atau tidak duduk sama sekali.

Dahsyat, begitu pikir saya. Tradisi yang sudah cukup langka di Jakarta ternyata masih menjadi satu perbincangan penting di daerah yang sejuk ini. Sangat berbeda dengan di kota kelahiran saya!

Memang saya bukan orang yang cukup sering bertamu atau menerima tamu, karena kegiatan saya di luar lebih banyak saya habiskan di kampus atau kegiatan sosial di luar. Berbeda dengan tempat teman saya, di Jakarta saya pernah bertamu ke rumah teman, tapi ya hanya begitu saja; orangtua menghampiri saat tamu anaknya datang dan ingin pulang, selebihnya ditinggal ke kamar atau ke belakang.

Oh iya, seperti yang saya tuliskan di awal, kemarin saya bersilaturahmi ke kediaman salah seorang teman tsanawiyah saya. Kalian tahu? Perbedaan tradisi bertamu sangat jelas berbeda ketika saya bertamu ke rumah teman saya yang satu ini. Jika adat daerah menganggap tamu anak adalah tamu orang tua juga, di sini kami datang bersaliman dengan orang tuanya lalu ditinggalkan di ruang tamu sambil menunggu temna kami yang masih di kamarnya. Selama kami bertamu, orang tua teman kami malah duduk di teras rumahnya. Lalu, ketika kami hendak pulang, barulah kami bertemu lagi untuk bersalaman pamit pulang.

Ada satu lagi tradisi yang cukup saya saluti. Ketika di Jakarta kata “permisi” menjadi asing diucapkan jika berjalan di jalanan, kecuali di daerah sekitar rumah. Di sini kata permisi harus diucapkan kepada siapa saja, sekali pun kepada orang yang tidak dikenal. Hal ini juga dilakukan kepada anak kecil atau dengan sekadar menyapa anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan. Kata teman saya, kata punten yang berarti permisi dapat meningkatkan derajat kita di masyarakat. “Itu semua karena kita dianggap tidak sombong, Kak.”

Di Jakarta, kata permisi itu sendiri (lagi-lagi menurut saya) adalah kata yang harus diucapkan dengan hati-hati. Kenapa hati-hati? Ya, di kota besar seperti ini, menyapa dan bersikap ramah kepada orang yang tidak dikenal malah menimbulkan kecurigaan. Ya, sikap ramah tidak selamanya dianggap baik di kota ini. Jangan tanya kenapa, karena kenyataannya itulah yang pernah saya rasakan.

“Ada lagi. Kalau jalan jangan nunduk, Kak. Di sini mah kalau jalan nunduk bisa dikira sombong.” Begitu kurang lebih kata teman saya. Ini dia yang menjadi pukulan bagi saya. Parahnya, teman saya baru memaparkan adat istiadat di sana ketika saya dan teman-teman lain sudah mengelilingi daerah sekitar sana.

Mendengar perkataan teman saya ini, saya yang biasa berjalan menunduk agak kikuk. Untuk berjalan tidak menunduk, cukup sulit sepertinya. Mengingat saya memang seorang yang pecanggung dan sangat pemalu kalau ada di daerah baru. Belum lagi jalan menunduk sudah jadi kebiasaan saya kalau berjalan dimana saja.

Setelah mendengarkan cerita tentang adat istiadat daerah sana, saya langsung menyadari betapa beragamnya negara Indonesia. Tak hanya bahasa dan agama, melainkan hal bertamu pun menjadi hal penting ketika kita mengingat kebaradaan kita di tengah tanah Indonesia yang kaya perbedaan. Mungkin sulit untuk menyatu dan melebur dengan tradisi orang, tapi sepertinya asik juga kalau kita bisa mengerti adat istiadat dan tradisi daerah yang asing dengan kita. Bukan hanya untuk memahami perbedaan yang ada, melainkan juga sebagai sarana belajar menghargai tradisi dan meninggikan kesopan yang jelas mulai terkikis di kota-kota besar.

Sejak mendapatkan pengalaman ini, saya semakin suka berkunjung ke kampung orang. Selain untuk menikmati suasana yang berbeda dengan Jakarta, saya juga ingin sedikit-sedikit mengenal tradisi dan adat istiadat yang masing mengental di lini-lini pedasaan.

Oh iya, melalui perjalanan ini saya jadi tahu kalau memegang tradisi dan adat istiadat bukan berarti kampungan, melainkan menjadi sarana mengekalkan tatakrama dan kesopanan anak muda terhadap yang lebih tua maupun pada sebayanya.

***

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung ^_^

Saturday, January 15, 2011

Maaf, Aku Bukan Mujahadah


bismullahirrahmanirrahim
dengan nama Tuhan Yang Memberi kekuatan padaku untuk dapat terus berdiri hingga kini.



Aku hanya wanita yang alpha, penuh borok di sana-sini. terlahir sebagai muslim saja, aku sudah sangat beruntung. Bisa mengenal kalian yang sesama muslim dan kalian yang nonmuslim semakin membuatku bersyukur dengan keberadaanku sekarang sebagai muslimah. Mengenal kalian, membuatku semakin paham tentang apa sebenarnya Islam dan bagaimana Tuhanku, Allah swt. Mengenal kalian, saudara seiman dan kawan-kawan nonmuslim, membuatku semakin tahu betapa Allah menyayangiku dengan segala kekurangan dan keterbatasanku di mata manusia.

Statusku sebagai muslimah hingga kini, aku rasa bukan apa-apa. Karena aku tidak seperti kalian, saudari seiman yang biasa saling menyapa dengan sebutan "ukhti". Yang saling mengatakan kalian dan yang seperti kalian adalah "akhwat", yang kalian katakan wanita yang taat pada Allah karena jilbab yang panjang menjuntai dan tebal. Aku bukan wanita yang kalian kira berilmu tinggi tentang Islam dan tentang Allah. Tidak, aku tidak di antara kalian.

Aku bukanlah makhluk Tuhan yang kaya akan ilmu dan memiliki keterpahaman agama yang luas seperti kalian. Tapi, di setiap tempat aku dapat duduk, di sana aku berusaha mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya, dari manapun itu. Dari guru, teman, kerabat, bahkan dari kalian (para saudari akhwat), dari dedaunan yang gugur dan jatuh ke tanah, dari burung yang mampu terbang bebas melesat mengudara, atau dari anjing, makhluk-Nya yang dikatakan najis sekalipun.

Aku tidak seperti kalian, yang dengan mudah menebarkan senyuman. Aku hanya bisa menunduk dan terdiam dalam kesendirian, dalam duniaku. aku bukan kalian.

Aku tidak seberani kalian yang mau keluar rumah untuk masalah organisasi dan pulang larut malam dengan dalih rapat demi kebaikan dan demi nama Allah. Maaf, aku tidak bisa seperti itu, karena bagiku keberadaanku sebagai wanita lebih aman di dalam ruanganku.

Aku tidak bisa seperti kalian yang turun kejalan membawa spanduk-spanduk besar dan berteriak menyuarakan yang kalian inginkan dengan kibaran jilbab-jilbab panjang kalian. Bukan, aku bukan kalian. Karena yang aku tahu, suaraku adalah bumerang bagiku. Teriakan itu, bukan milik wanita Allah.

Aku memang bukan kalian yang mau ikut organisasi ini dan itu, yang lagi-lagi mengatakan berjihad di jalan Allah dengan berbondong-bondong ke pusat kota dengan kibaran pakaian taqwamu bersama panasnya udara Jakarta. Sungguh saudariku, aku tidak bisa seperti kalian. Lagi-lagi, aku hanya bisa berjihad dengan sedikit ilmuku.

Aku memang bukan mujahadah seperti kalian yang turun ke jalan. Tapi, tak layak pula kau katakan yang tidak ada di jalan bukan seorang mujahadah. Karena yang aku tahu, tak ada dalam kitab apapun itu demo salah satu bentuk jihad.

Ah, berjihad yang kecil saja --melawan hawa nafsuku-- kadang aku kewalahan, bagaimana dengan jihad-jihad besar lainnya seperti kalian? Aku memang tak layak di antara kalian, saudariku. Yang mampu berkumpul bersama para lelaki yang kalian panggil "akhi" dan berpredikat ikhwan. Bukan ... ternyata aku bukan bagian dari kalian.

Aku hanya muslimah biasa. Yang aku tahu, Islam memuliakanku dan kalian sebagai wanita dengan segala kelemahan yang kita miliki. Yang aku tahu, Allah dan Habiballah Muhammad telah sangat memuliakan di antara kita yang berada di dalam rumah, berdiam diri menjaga kesucian, harga diri dan keluarga kita. Bukan di atas trotoar bersama spanduk-spanduk besar yang dijunjung tinggi berdalihkan jihad fii sabilillah.

Saudariku, maaf, aku memang bukan mujahadah seperti kalian yang mau keluar rumah dan sibuk dengan organisasi dan dakwah serta demo-demo yang kalian suarakan. Aku hanya bisa meniatkan diri, mensucikan hati atas nama Allah bahwa perjalanan hidupku mencari ilmu dunia dan akhirat yang bermuara surga hanya hanya untuk-Nya. Bagiku, tiap langkah ini adalah jihad atas-Nya, meski kaki ini tak mampu melangkah bersama derapan para "ikhwan" di jalan-jalan kota Jakarta.

Maaf, jika aku yang kau kenal bukanlah mujahadah, bukan yang mau ikut serta dalam kesibukan dakwahmu. Tapi bagiku, tiap kata yang terangkai oleh lisan ini harus membawa berkah bagi yang mendengar, dan dapat menjadi jalan jihadku dalam menyampaikan betapa damainya Islam.

Maaf, aku bukan mujahadah. Aku tak mampu berjihad bersama kalian. Tapi aku harap, tiap ilmu yang aku peroleh dari semua makhluk Allah dapat menjadi sarana jihadku di tempat yang berbeda dengan kalian. Dengan sedikit ilmu yang aku punya, semoga itu bisa menjadi sarana tersendiri bagiku. Aamin.

Sekali lagi, maaf, aku bukan mujahidah. Tapi, bukan berarti kami (aku dan muslimah sepertiku) tidah berjihad atas Allah. Hanya Allah Tahu segalanya.

Saturday, December 18, 2010

Secarik Ilmu dari Sakti Wibowo di Sabtu Siang


bislmillahirrahmanirrahim ...

sejujurnya, inilah hari yang aku tunggu-tunggu sejak awal mengikuti kelas menulis FLP Ciputat. kelas menulis skenario bersama Sakti Wibowo (penulis skenario sinetron KCB). umm, lebih tepatnya hari ini aku ingin tahu dan mengenal kak Sakti Wibowo melalui caranya berbicara dan bahasa tubuhnya saat menyampaikan sesuatu.

***

dimulai kurang lebih pukul 13. 30 di Aula Minahasa milik anak-anak Aceh di Ciputat, aku menjamin tingkat kesadaranku berada pada gelombang beta. hehe ... supaya bisa menyerap ilmunya dengan maksimal :)

yuk kita mulai apa yang beliau berikan kepada kita, calon penulis muda (aamin, semoga bukan hanya calon :))))

***

pembicaraan kak Sakti tentang dunia skenario per-film-an siang ini di awali dengan salam, komplit sampai shalawat kepada Nabi Muhammad saw. (ini yang jarang aku temui pada pengisi kelas menulis ini).

tanpa prolog yang bertele-tele, kak Sakti memulai materinya dengan kata "Mari kita mulai dari sini!" (hal yang aku suka dari style kak Sakti, to the point dan mengena ilmunya). kak Sakti memberikan kami prediksi awal tentang apa itu skenario dengan pernyataan simple, "Film dan novel sama-sama 'cerita', sama-sama memiliki tuntunan estetika kepenulisan yang sana dan sama-sama memerlukan narasi dan visual."

nah, terus apa bedanya? PROPORSInya!
pada film, narasi memperkuat visual yang berjalan. sedang pada novel,
visual pembaca memperindah narasi yang disampaikan

keduanya, film maupun novel, membutuhkan karakter-yang kuat dan terdefinisi-; setting-yang meyakinkan, realistis dan logis; alur yang dramatis dan memiliki ketegangan (alur inilah yang nantinya dituntut untuk dapat membuat pembaca/penonton berdebar-debar saat mengikuti pengisahan; dan yang terakhir tapi yang paling penting adalah surprised ending.

lalu, apa sih Skenario itu?
berdasarkan wikipedia indonesia :) skenario atau naskah film dapat diartikan sebagai cetak biru untuk ditulis untuk film atau acara televisi. skenario ini dapat dihasilkan drai olahan asli atau adaptasi dari sastra lain.

berhubung keberadaan kami (anggota kelas menulis) adalah untuk belajar menulis, skenario khususnya untuk hari ini, jadi ... sebenarnya skenario yang baik itu yang seperti apa ya?

kata kak Sakti, skenario sudah bisa dikatakan baik jika skenario itu sudah bisa menjadi acuan dan panduan kerja kru. artinya, skenario ini mampu memberi gambaran visual sebuah film.

***

kita beranjak pada halaman selanjutnya (gaya kak Sakti niih ...)

sekarang kita berbincang tentang unsur-unsur yang ada pada skenario itu sendiri.
skenario memiliki enam unsur pokok, yakni.

1. WILL. WILL entah kenapa sepanjang pembahasan ini, kak Sakti menulis kata will dengan capslock adalah semacam motivasi, obsesi atau keinginan tokoh utama untuk terus "bergerak" di sepanjang kisah yang dibuat. WILL inilah yang nantinya akan menjadi benang merah yang merangkai cerita dan membentuk grafik dramatik, alur konflik, hingga tiba pada surprised ending. naah ... saat proses pencapaian WILL ini, akan muncul berbagai macam konflik dan ketegangan atau di sini kami menyebutnya suspense.

2. Karakterisasi. dalam hal ini, karakterisasi meliputi penokohan, latar belakang toko, psikologi tokoh, dan lain-lain. dan salah satu indikasi dari skenario yang baik adalah karakter yang kuat. maksudnya, karakter yang terdefinisi dengan baik, logis, definit, dan konsisten (bukan berarti tidak ada perubahan, tapi berubah dengan proses yang logis). yang kita tahu selama ini, mungkin komposisi karakter dalam cerita hanya tokoh utam ayang lemah dan tertindas di tambah tokoh antagonis yang berjiwa iblis dan tidak berhati. umm, ternyata salah, kawan! tidak sesimpel itu.

*Protagonis. karakter utama yang membawa pesan utama cerita. memang pada dasarnya karakter ini akan menjumpai banyak sekali penghalang dan dituntut untuk benjuang meruntuhkan penghalang-penghalang tadi.

*Antagonis. penghambat utama protagonis yang membantu untuk menaikkan nilai dramatis suatu cerita.

*Skeptis. penghalang terselubung bagi protagonis karena sifatnya yang skeptis, pesimis dan melecehkan.

*Plin-plan. sesuai namanya, karakter ini plin-plan, licik dan bermuka dua. kadang karakter ini berpihak pada protagonis, di lain waktu memihak antagonis. (ckck plin-plan tenan)

*Sidekick. pendamping protagonis, tapi jangan sampai menumpulkan karakter protagonis. oleh karena itu, karakter yang satu ini harus tepat penempatannya. biasanya ia memiliki informasi-informasi kecil yang berdampak besar.

terakhir, *Kontagonis. pasti udah ketebak! karakter ini menjadi pendamping antagonis.
3. Suspense (hambatan). yang ini harus ada! karena suspen inilah yang akan membentuk fluktasi dramatik yang nantinya akan membuat penonton penasaran. jangan lupa! WILL dan suspense harus sama-sama kuat.

4. Proses mencapai tujuan. umm, berdasarkan pemahamanku, di sinilah serunya sebuah film. muncul konflik, lonjakan dramatik, dan pertemuan antar karakter!

5. Time Line (Time Limit). waktu-waktu di mana karakter harus muncul atau tidak. bahkan, waktu dimana suatu karakter -dalam bahasa aku sendiri menyebutnya-"dibunuh" oleh penulis skenario.

6. Suprised ending. surprised-nya tidak harus di luar dugaan penonton. tapi bisa dibilang, alurnya bisa dibuat bergerak "sembunyi-sembunyi" dan ada twist ending.

sebenarnya, empat unsur terakhir di atas adalah unsur-unsur yang akan membentuk struktur dramatik, sehingga suatu film bergerak.

***

eitt .... ada yang tercecer! cerita (novel maupun skenario) kudu unik dan orisinal!
orisinal yang dimaksud kak Sakti ini, bukan sekadar bahan ceritanya, melainkan masalah cita rasanya! (harus pake tanda seru)

menurut kak Sakti, orisinalitas suatu cerita bisa berangkat dari:

* karakter yang unik. seperti pada film Nagabonar, Ada Apa Dengan Cinta, Eclipse, de-el-el.
* Setting yang unik. ini bisa ditemukan dalam fil Laskar Pelangi, Denias, de-el-el.
* Obsesi yang unik. kata kak Sakti sih seperti pada fil Eat, Pray, Love.
* Objek cerita yang berbeda. misalnya film Da Vinci Code, dan novel The Lost Symbol.
* konflik yang berbeda, dengan alur yang di luar kewajaran dan komposisi karakter yang di luar pakem. kalau kak Sakti merekomendasikan film-film Jepang berjudul Dororo dan SoreWa Totsuzen, aku merekomendasikan film Jepang berjudul The Nightmare Detective.
* Interpretasi terhadap sesuatu yang menabrak keyakinan sebelumnya. contohnya ... film Putri Huang Zu atau novel Arok-Dedes.

***

yap! inilah secarik ilmu dari kak Sakti Wibowo di Sabtu siang ini.
semoga bermanfaat. salam Pena! salam semangat menulis! semoga tulisan ini berkah :)
sampaikan walau hanya satu ayat (moto kelas skenario 7Line-nya kak Sakti, walau gak religi, selipin dikit ayatnya :))

-Fatul-

sambil menatap bulan yang hampir penuh.
Gusti, ku titipkan hatiku pada-Mu.

Thursday, November 18, 2010

inilah amanah Tuhan padaku

Manusia mana yang tidak memiliki cita-cita? Bahkan seorang anak selokan pun punya cita-cita, meski sekadar untuk tidur di kasur yang empuk dan ruangan yang hangat.

Aku rasa aku termasuk seorang ambisius. Hal itu aku sadari saat membuka catatan kecil yang tersimpan rapi di dalam lemariku. Di sana tertulis daftar cita-citaku yang jika kalian membacanya pasti akan menertawakannya. Bahkan saat membacanya ulang, aku yang menjadi penulisnya pun tersenyum dan berdecak-decak sendiri. Tapi … apa salahnya? Ya, tak.

Sejak dulu, aku bermimpi bisa menjadi dokter jantung atau syaraf. Karena bagiku, jantung adalah ciptaan Tuhan yang maha dahsyat. Organ yang hanya berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa bisa bekerja tanpa henti. Kekuatannya untuk bekerja selama kita hidup itulah yang memotivasi diriku untuk lebih menggali dunia jantung. Lalu, dengan syaraf. Berhubung keponakan pertamaku memiliki kelainan syaraf pada otak kirinya, aku bertekad untuk mengetahui lebih lanjut tentang syaraf, suatu sistem sederhana yang berdampak besar bagi kelangsungan hidup kita.

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Ia tidak menginginkanku untuk menjadi seorang dokter. Hiks… sedih memang, tapi inilah yang Tuhan mau. Sebagai hamba-Nya, aku hanya bisa pasrah dan menerima. Kini aku memang bergelut di dunia medis, tapi bukan di kedokteran. Allah, Tuhan yang (menurutku) gemar memberikan kejutan, memberikanku amanah lain. Kini aku calon seorang farmasis.

Mungkin banyak yang tidak kenal dengan farmasi, tapi setelah aku berada di dalamnya, aku tahu bahwa peranan seorang farmasis tidak kalah pentingnya dengan dokter.

Di sini, di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, aku mendapat banyak pelajaran dari-Nya yang diperantarakan melalui orang-orang yang ada di sekelilingku. Kini aku dapat sepenuhnya bersyukur atas kegagalan-kegagalan yang telah aku terima sebelum akhirnya aku ada di sini.

Melalui kegagalan ini aku menemukan apa yang aku inginkan, dan bisa aku pastikan aku tidak akan menerima semua ini jika Tuhan memberikanku kemudahan di awal.

Di sinilah aku bertemu dengan orang-orang hebat yang tak hanya menguasai dunia kesehatan, tapi juga memadukannya dengan agama. Yang membuat aku lebih kagum dengan teman-temanku, rata-rata di antara mereka memiliki keterpahaman yang baik tentang Islam dan al-qur’an. Bahkan saat membahas kesehatan dan prosedur pengobatan pun, mereka sempat-sempatnya menghubungkan dan membawa ayat-ayat al-qur’an dalam diskusi kami. Ckck.

Dan inilah saatnya aku merasa “bodoh”.

Umm… di saat inilah aku kembali merenung dan me-review alur perjalananku menuju tempat ini. Semakin aku menelaah skenario-Nya, aku semakin yakin bahwa Tuhan sayang pada hamba-Nya. Ya, sangat yakin!!

Jika saja Tuhan meluluskan aku di seleksi PMDK, aku tak menjamin aku akan tetap menjadi seperti dulu, seorang pelajar yang cuek dan tak suka menunjukan apa yang aku punya. Jika Tuhan mengabulkan doaku, aku tak menjamin aku tidak akan menjadi seorang mahasiswa yang besar kepala yang sombong dan sok pandai.

Sungguh!! Tahun ini adalah tahun terbesar yang aku rasakan. Mulai dari keterpurukan, Tuhan menuntunku menuju apa yang sebenarnya aku inginkan. Menjadi ahli medis muslim yang menggunakan metode Islam.

Tuesday, November 16, 2010

TAKLUKAN RIMBA PENGETAHUAN TANPA KEEGOISANMU

Memasuki dunia perkuliahan adalah impian bagi sejumlah besar kalangan remaja yang baru terlepas dari dunia pubertas. Ketika seorang remaja baru saja dinyatakan lulus dari bangku sekolah menengah, yang ada di benaknya adalah apa yang akan ia lakukan setelah ini? Melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi atau universitas adalah pilihan utama bagi mereka yang mampu secara finansial dan akademisi.

Berbagai try out dan ujian masuk universitas menjadi aktivitas yang tak luput dari mereka yang berkeinginan untuk kuliah, sehingga mereka dapat diterima di universitas yang masing-masing mereka harapkan. Tak hanya sampai di situ, topik baru setelah para mahasiswa baru ini diterima di universitas masing-masing adalah bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan paradigma-paradigma baru yang ada di dalamnya.

Bagi saya, dunia perkuliahan bukanlah dunia yang simpel, yang dapat kita mengerti secara langsung apa dan bagaimana “hukum alam” yang berlaku di sana. Mungkin yang ada di benak para mahasiswa baru (teman-teman sebaya saya) adalah kebebasan. Tapi menurut pandangan saya, dunia perkuliahan adalah dunia yang tidak megindikasikan suatu kebebasan, sama sekali. Yang ada dibenak saya, dunia perkuliahan sama halnya dengan hutan rimba, tapi perbedaan rimba yang satu ini adalah tidak adanya hukum alam yang menyatakan “yang kuat yang berkuasa”. Karena bagi saya, di dunia perkuliahan ini kita dituntut bagaimana caranya mempertahankan hidup tanpa merusak kehidupan yang lainnya (asertif).

Idealisme seorang mahasiswa baru yang cenderung ingin menonjolkan diri agar disegani oleh sesama mahasiswa baru, saya rasa adalah kesalahan fatal yang dapat membunuh dirinya sendiri. Ini saya katakan karena ketika saya baru mengenal apa dan siapa itu mahasiswa, ternyata kenyataannya jauh dari apa yang sudah dibicarakan selama saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Bagi saya, dunia perkuliahan yang saya lebih senang menyebutnya “rimba pengetahuan” adalah area yang keberadaan dan efiensinya tergantung pada penghuni rimba itu sendiri. Ketika kita menuruti ego dan keangkuhan diri, maka sekali lagi saya katakan, “Brsiaplah untuk kembali tersesat di hutanmu.”

Di dunia perkuliahan ini, kita akan lebih banyak mengenal orang dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia, bahkan dunia dan juga berbagai watak dan karakteristik orang-orangnya. Di wilayah yang lebih homogen inilah, ego kita masing-masing dilatih untuk bagaimana mengahapi berbagai macam watak dan mental kawan. Dan di sinilah tempatnya untuk mengikis ego kita masing-masing dan belajar menghargai orang.

Ketika baru mengenal dunia perkuliahan, saya yang seorang introvert berkeinginan untuk mengubah diri (tanpa mengubah karakter diri) untuk dapat lebih terbukan supel kepada sesama mahasiswa baru maupun senior. Semua ini saya kira adalah hal yang harus saya lakukan agar dapat tetap survive di “rimba pengetahuan” ini. Karena dengan banyaknya koneksi dan pengetahuan seputar perkuliahan dan hal-hal yang ada di dalamnya, memungkinkan kita (para mahasiswa baru) untuk dapat saling membantu.

Mengingat bahwa tujuan kita kuliah adalah untuk meningkatkan kemampuan kita sebagai sumber daya manusia yang berguna bagi Negara Republik Indonesia, maka saling bersinergi antar satu sama lain adalah suatu hal yang cukup bijak dilakukan oleh seorang mahasiswa, terlebih lagi jika dalam satu fakultas kita menggeluti bidang yang berhubungan seperti Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Dan lagi-lagi, menjadi seorang mahasiswa adalah suatu komitmen yang harus dipertanggungjawabkan keberdaannya. Apakah mahasiswa itu menjadi mahasiswa yang hanya sekadar kuliah dan mengukir prestasi tanpa peduli yang lainnya, atau menjadi mahsiswa yang “suka aksi”, dalam artian aktif di segala bidang. Mulai dari kegiatan akademisi, organisasi, hingga sosial masyarakat. Ketika kita memilih menjadi mahasiswa di posisi pertama, maka kita harus siap-siap tenggelam dan tersesat di dalam rimba ini. Tapi jika kita memilih posisi yang kedua, maka pertanggungjawabkanlah aksi dan komposisi yang ada di dalamnya.

Terlepas dari semua paradigma dan pandangan saya saat menjadi mahasiswa baru, kesan yang paling saya ingat ketika menjadi mahasiswa baru adalah, buang jauh-jauh egositas antar sesama. Karena kita membutuhkan pundak teman kita untuk mencapai tempat yang lebih tinggi lagi. Jangan sampai keegoisan yang kita miliki menjadi bumerang yang dapat menyebabkan kita mati sebelum masuk “rimba pengetahuan".

Thursday, November 11, 2010

pemberian-Nya dan keseombonganku


Ciputat, 11 November 2010 1.48 AM

Lama sekali tak pernah menulis kisah-kisah kembali. Akhir-akhir ini aku lebih sering menulis artikel tentang kesehatan. Entah kenapa, semua seperti sudah diatur oleh Tuhan. Dan kini, ternyata aku benar-benar berkecimpung di dunia kesehatan.

Dapat aku pastikan, aku tak pernah membayangkan akan seperti sekarang ini. Berada di tengah-tengah orang-orang hebat yang mementingkan tingkat kesejahteraan kesehatan tak hanya ditinjau dari sisi medis, tapi juga psikis dan rohani.

Ya, kini aku berada di lingkungan yang dulu pernah aku singgahi. Lingkungan yang kental akan keislaman, tapi juga kaya akan ilmu pengetahuan yang modern dan tak tertinggal dari yang lainnya. Sungguh, aku benar-benar kembali ke masa tujuh tahun lalu. Aku tak tahu apa maksud dari semua ini, apa yang Tuhan mau dariku, lalu, apa yang akan Ia rencanakan untuk hari esokku? Semuanya masih dalam perabaanku terhadap-Nya.

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, di sinilah kini aku berada. Dan semuanya tanpaku duga.

Jika aku melihat kembali masa laluku, rasanya aneh. Entahlah, memang itu yang aku rasakan. Menatap masa-masa sekolah yang masih terekam jelas dalam ingatanku membuat aku semakin panjang dalam memikirkan keberadaanku dan kehendak Tuhan kepadaku.

Ketika di bangku sekolah, mungkin orang-orang yang mengenalku (belum tentu semuanya aku kenal) akan mengira aku dapat masuk ke universitas yang lebih bagus lagi. Haha… inilah uniknya Tuhan. Banyak kejutan dalam setiap hari yang Ia ciptakan. Dan aku, yang kata mereka siswa teladan dan berprestasi selama di bangku sekolah “hanya” bisa di sini J

Menyesal?

TIDAK. Jelas sekali! Mungkin awalnya berat, tapi setelah dihadapi dengan optimis, semuanya baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik. Karena inilah yang sebenarnya yang aku butuhkan. Dan kalian tahu kenapa? Karena Tuhan mengerti diriku.

Dan sekarang bukanlah waktunya untuk melanjutkan keluh kesah dan kemarahan pada Tuhan hanya karena aku tidak mendapatkan yang aku mau. Karena ternyata Tuhan lebih mengerti aku dibandingkan diriku sendiri. Atas nama-Nya, aku benar-benar malu. Malu telah berprasangka buruk pada-Nya.

Jika direnungkan lagi, aku memang pantas mendapatkan ini. Umm. Kenapa?

Jangan heran, karena memang beginilah adanya. Dulu, saat aku masih duduk di bangku sekolah memang seperti yang telah aku katakan sebelumnya, sebagai siswa teladan dan berprestasi. Tapi aku rasa aku sudah cukup kufur dengan segala karunia itu. Ya. Aku berani berkata seperti ini karena aku merasakannya. Misalnya saja saat semua orang mengenal aku sebagai Lisfatul Fatinah yang katanya pandai, bahkan aku tak banyak mengenal banyak di antara mereka. Dan lagi ketika aku mendapatkan PMDK (jalur penerimaan mahasiswa baru tanpa tes) dari Universitas Indonesia, aku menolaknya mentah-mentah. Padahal saat itu banyak teman-teman yang iri padaku dan berharap dapat menggantikan posisiku. Seingatku, aku juga pernah berkata, “sekalipun keterima, nggak akan diambil kok.”

Ckck. Ya Allah. Sesombong itulah aku, saat itu. Hadist di awal postingan inilah yang aku takuti.

Tapi itu semua bukan berarti aku tidak mau menerima karunia Tuhan. Rencana perkuliahanku memang sebenarnya bukan ke Universitas Indonesia, melainkan Universitas Diponegoro, Semarang atau Universitas Sriwijaya, Palembang. Semua itu aku pertimbangkan berdasarkan kualitas dan prestasi universitas tersebut saat itu. Selain itu, aku juga ingin merasakan menuntut ilmu jauh dari orang tua.

Saat proses seleksi PMDK aku memilih program studi farmasi. Entahlah kenapa aku memilih program studi ini, padahal aku tak tahu apa dan bagaimana farmasi itu. Hingga tiba saatnya hasil seleksi diumumkan, namaku tak tercantum di dalamnya. Menyesal? YA!! Saat itu sangat menyesal. Seluruh semangatku dalam menuntut ilmu luntur seketika.

Ujian demi ujian aku lakukan dengan memilih universitas yang sama dan program studi yang sama. Tapi hasilnya nihil. Hingga di detik-detik akhir ujian masuk universitas, orang tuaku, ibuku lebih tepatnya berkata, “jangan terlalu dipikirin. Memang universitas cuma satu aja? Lagi pula universitas bukan patokan suksesnya seseorang. Semua tergantung orangnya. Kalau memang layak untuk sukses, pasti akan sukses. Di mana pun ia berada.”

Mendengar perkataan ibu yang diucapkan di dapur saat aku sedang bermalas-malasan di kamar, aku langsung merasakan kehadiran Tuhan. Keyakinan akan kasih sayang-Nya. Saat itu juga aku bangkit dan menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan shalat dhuha. Dari sinilah aku mulai berpikir. Saat ini juga aku memporak-porandakan mind set dan perasaanku sendiri di atas sajadah. Tersungkur bersama air mata dan gejolak yang selama ini tersimpan rapi.

Kini, aku tahu Tuhan sudah cukup adil padaku, sangat adil. Mulai dari penolakan pendaftaran PMDK dan ujian-ujian masuk universitas negeri. Ya. Karena aku sudah menolaknya sebelum mendaftarkan diri, lalu apa gunanya Ia membiarkan aku diterima? Bukankah lebih baik “jatah”ku nantinya diberikan kepada orang yang benar-benar menginginkannya. Dan di detik-detik terakhir inilah aku merenung dan mengubah pilihanku. Mulai dari hanya tertuju pada satu universitas kini mulai melirik universitas yang lain, begitu pula dengan program studi yang aku pilih.

Dan kini, aku ada di sini. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan. Aku pun bisa berkata, “Terima kasih Allah. Kau Maha Mengerti apa yang aku butuhkan.” J Kalian tahu kenapa? Aku ceritakan di postingan selanjutnya.

Bye… Bye…