Showing posts with label aku. Show all posts
Showing posts with label aku. Show all posts

Saturday, September 10, 2011

Berbagi Tradisi dalam Silaturahmi

IDUL FITRI atau biasa disebut Lebaran memang identik dengan istilah mudik atau pulang kampung ke kampung halaman. Tahun ini, ada yang berbeda dengan momen Lebaran saya. Jika orang lain mudik ke kampung halaman masing-masing, kali ini saya tidak mudik ke kampung orang tua (sebenarnya sih saya memang tidak pernah mudik. Hiks.), tapi saya mudik ke kampung orang.

Nah, untuk acara mudik kali ini, mau tidak mau saya (seharusnya) harus tahu tradisi bertamu ke kampung halaman orang, apalagi jika bertamu dan bermalam. Dari perjalanan ini saya jadi tahu bagaimana tradisi dan adat istiadat masih dipegang erat oleh orang yang tinggal jauh dari kota besar bernama Jakarta. Dan hal ini semakin jelas keberadaannya ketika kemarin saya bertamu ke rumah salah satu teman di tsanawiyah.

***

Perjalanan ini bermula pada t anggal 2 September lalu. Saya pergi mudik ke Subang, kampung salah seorang teman, dengan dua orang teman dari Jakarta. Sebenarnya, menurut saya perjalanan ini cukup mendadak. Beberapa hari menjelang hari raya Idul Fitri, salah satu dari kami merencanakan perjalanan ini dan jadilah tanggal 2 September sebagai tanggal keberangkatan saya dan yang lainnya dari Jakarta.

Seperti biasa, target utama kami setiap mengunjungi “sarang komunis kedua” ini adalah rimbunan hijau berupa bukit yang siap kami daki untuk menikmati ciptaan Tuhan Yang Mahaindah. Rencana awalnya, kami hanya ingin tinggal di sana semalam saja. Tapi ketika tiba waktunya pulang, ternyata kami kehabisan bis tujuan Jakarta (terminal Kampung Rambutan). Akhirnya, ya…, mau tak mau kami kembali membongkar tas masing-masing dan menunda kepulangan kami untuk keesokan harinya.

Saat saya dan tuan rumah tiba, saya langsung masuk ke kamar untuk kembali beristirahat. Sementara itu, teman saya yang menjadi tuan rumah pergi ke luar kamar cukup lama. Dari kamar, terdengar perbincangan teman saya dengan ayahnya, tapi hanya samar-samar. Sesampai di kamar, mulailah teman saya ini menceritakan apa yang dibicarakannya dengan ayahnya di luar kamar. “Adat istiadat bertamu orang sini (baca:Ciater),” katanya. Dari sinilah perbincangan kami berdua seputar tradisi bersilaturahmi dari daerah masing-masing.

***

Pembicaraan ini bermula ketika ayah teman saya berbicara dengan teman saya dan menanyakan asal kami, terutama yang lelaki. Saat mendengar kami berasa dari Jakarta, sang ayah kurang lebih menjawab dengan bahasa sunda yang artinya, “Oh, pantesan. Polos banget.” Karena tidak mengerti dengan maksud ayahnya, saya bertanya apa arti polos dalam jawaban ayahnya.

Sambil tiduran, teman saya menceritakan maksud jawaban dari ayahnya. Jadi, maksud polos di sini adalah cara bertamu yang seperti anak kecil; datang bertamu ke temannya (saja) dan cuek dengan orang tua temannya.

Ternyata, tradisi bersilaturahmi atau bertamu di tanah sunda ini sangat berbeda dengan di kota besar seperti Jakarta yang sudah melebur dengan tradisi barat. Berdasarkan cerita teman saya, biasanya kalau ada anak muda yang bertamu, orangtua temannya harus ikut menemani tamu anaknya. Dan yang tidak saya sangka, orangtua bukan hanya menemani, melainkan juga mengajak tamu anaknya berbincang. Sehingga, tamu anaknya tak hanya menjadi tamu anaknya, melainkan juga menjadi tamu semua orang yang ada di rumah, termasuk orangtua.

Tak hanya itu, di sini pun ada tradisi yang (menurut saya) hampir sama dengan tradisi orang Jawa. Yakni ketika ada anak dan orangtua yang sedang berbicara, posisi si anak harus lebih rendah dari orang tua. Jadi, ketika orang tua duduk di atas bangku, kami sebagai yang lebih muda harus duduk di lantai atau tidak duduk sama sekai. Bahkan di sini antara orangtua dan anak tidak diperkenankan untuk duduk dalam satu bangku yang sejajar. Katanya, lebih baik duduk di bangku yang berbeda, kalau tidak ya seperti tadi, duduk di lantai atau tidak duduk sama sekali.

Dahsyat, begitu pikir saya. Tradisi yang sudah cukup langka di Jakarta ternyata masih menjadi satu perbincangan penting di daerah yang sejuk ini. Sangat berbeda dengan di kota kelahiran saya!

Memang saya bukan orang yang cukup sering bertamu atau menerima tamu, karena kegiatan saya di luar lebih banyak saya habiskan di kampus atau kegiatan sosial di luar. Berbeda dengan tempat teman saya, di Jakarta saya pernah bertamu ke rumah teman, tapi ya hanya begitu saja; orangtua menghampiri saat tamu anaknya datang dan ingin pulang, selebihnya ditinggal ke kamar atau ke belakang.

Oh iya, seperti yang saya tuliskan di awal, kemarin saya bersilaturahmi ke kediaman salah seorang teman tsanawiyah saya. Kalian tahu? Perbedaan tradisi bertamu sangat jelas berbeda ketika saya bertamu ke rumah teman saya yang satu ini. Jika adat daerah menganggap tamu anak adalah tamu orang tua juga, di sini kami datang bersaliman dengan orang tuanya lalu ditinggalkan di ruang tamu sambil menunggu temna kami yang masih di kamarnya. Selama kami bertamu, orang tua teman kami malah duduk di teras rumahnya. Lalu, ketika kami hendak pulang, barulah kami bertemu lagi untuk bersalaman pamit pulang.

Ada satu lagi tradisi yang cukup saya saluti. Ketika di Jakarta kata “permisi” menjadi asing diucapkan jika berjalan di jalanan, kecuali di daerah sekitar rumah. Di sini kata permisi harus diucapkan kepada siapa saja, sekali pun kepada orang yang tidak dikenal. Hal ini juga dilakukan kepada anak kecil atau dengan sekadar menyapa anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan. Kata teman saya, kata punten yang berarti permisi dapat meningkatkan derajat kita di masyarakat. “Itu semua karena kita dianggap tidak sombong, Kak.”

Di Jakarta, kata permisi itu sendiri (lagi-lagi menurut saya) adalah kata yang harus diucapkan dengan hati-hati. Kenapa hati-hati? Ya, di kota besar seperti ini, menyapa dan bersikap ramah kepada orang yang tidak dikenal malah menimbulkan kecurigaan. Ya, sikap ramah tidak selamanya dianggap baik di kota ini. Jangan tanya kenapa, karena kenyataannya itulah yang pernah saya rasakan.

“Ada lagi. Kalau jalan jangan nunduk, Kak. Di sini mah kalau jalan nunduk bisa dikira sombong.” Begitu kurang lebih kata teman saya. Ini dia yang menjadi pukulan bagi saya. Parahnya, teman saya baru memaparkan adat istiadat di sana ketika saya dan teman-teman lain sudah mengelilingi daerah sekitar sana.

Mendengar perkataan teman saya ini, saya yang biasa berjalan menunduk agak kikuk. Untuk berjalan tidak menunduk, cukup sulit sepertinya. Mengingat saya memang seorang yang pecanggung dan sangat pemalu kalau ada di daerah baru. Belum lagi jalan menunduk sudah jadi kebiasaan saya kalau berjalan dimana saja.

Setelah mendengarkan cerita tentang adat istiadat daerah sana, saya langsung menyadari betapa beragamnya negara Indonesia. Tak hanya bahasa dan agama, melainkan hal bertamu pun menjadi hal penting ketika kita mengingat kebaradaan kita di tengah tanah Indonesia yang kaya perbedaan. Mungkin sulit untuk menyatu dan melebur dengan tradisi orang, tapi sepertinya asik juga kalau kita bisa mengerti adat istiadat dan tradisi daerah yang asing dengan kita. Bukan hanya untuk memahami perbedaan yang ada, melainkan juga sebagai sarana belajar menghargai tradisi dan meninggikan kesopan yang jelas mulai terkikis di kota-kota besar.

Sejak mendapatkan pengalaman ini, saya semakin suka berkunjung ke kampung orang. Selain untuk menikmati suasana yang berbeda dengan Jakarta, saya juga ingin sedikit-sedikit mengenal tradisi dan adat istiadat yang masing mengental di lini-lini pedasaan.

Oh iya, melalui perjalanan ini saya jadi tahu kalau memegang tradisi dan adat istiadat bukan berarti kampungan, melainkan menjadi sarana mengekalkan tatakrama dan kesopanan anak muda terhadap yang lebih tua maupun pada sebayanya.

***

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung ^_^

Saturday, January 15, 2011

Maaf, Aku Bukan Mujahadah


bismullahirrahmanirrahim
dengan nama Tuhan Yang Memberi kekuatan padaku untuk dapat terus berdiri hingga kini.



Aku hanya wanita yang alpha, penuh borok di sana-sini. terlahir sebagai muslim saja, aku sudah sangat beruntung. Bisa mengenal kalian yang sesama muslim dan kalian yang nonmuslim semakin membuatku bersyukur dengan keberadaanku sekarang sebagai muslimah. Mengenal kalian, membuatku semakin paham tentang apa sebenarnya Islam dan bagaimana Tuhanku, Allah swt. Mengenal kalian, saudara seiman dan kawan-kawan nonmuslim, membuatku semakin tahu betapa Allah menyayangiku dengan segala kekurangan dan keterbatasanku di mata manusia.

Statusku sebagai muslimah hingga kini, aku rasa bukan apa-apa. Karena aku tidak seperti kalian, saudari seiman yang biasa saling menyapa dengan sebutan "ukhti". Yang saling mengatakan kalian dan yang seperti kalian adalah "akhwat", yang kalian katakan wanita yang taat pada Allah karena jilbab yang panjang menjuntai dan tebal. Aku bukan wanita yang kalian kira berilmu tinggi tentang Islam dan tentang Allah. Tidak, aku tidak di antara kalian.

Aku bukanlah makhluk Tuhan yang kaya akan ilmu dan memiliki keterpahaman agama yang luas seperti kalian. Tapi, di setiap tempat aku dapat duduk, di sana aku berusaha mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya, dari manapun itu. Dari guru, teman, kerabat, bahkan dari kalian (para saudari akhwat), dari dedaunan yang gugur dan jatuh ke tanah, dari burung yang mampu terbang bebas melesat mengudara, atau dari anjing, makhluk-Nya yang dikatakan najis sekalipun.

Aku tidak seperti kalian, yang dengan mudah menebarkan senyuman. Aku hanya bisa menunduk dan terdiam dalam kesendirian, dalam duniaku. aku bukan kalian.

Aku tidak seberani kalian yang mau keluar rumah untuk masalah organisasi dan pulang larut malam dengan dalih rapat demi kebaikan dan demi nama Allah. Maaf, aku tidak bisa seperti itu, karena bagiku keberadaanku sebagai wanita lebih aman di dalam ruanganku.

Aku tidak bisa seperti kalian yang turun kejalan membawa spanduk-spanduk besar dan berteriak menyuarakan yang kalian inginkan dengan kibaran jilbab-jilbab panjang kalian. Bukan, aku bukan kalian. Karena yang aku tahu, suaraku adalah bumerang bagiku. Teriakan itu, bukan milik wanita Allah.

Aku memang bukan kalian yang mau ikut organisasi ini dan itu, yang lagi-lagi mengatakan berjihad di jalan Allah dengan berbondong-bondong ke pusat kota dengan kibaran pakaian taqwamu bersama panasnya udara Jakarta. Sungguh saudariku, aku tidak bisa seperti kalian. Lagi-lagi, aku hanya bisa berjihad dengan sedikit ilmuku.

Aku memang bukan mujahadah seperti kalian yang turun ke jalan. Tapi, tak layak pula kau katakan yang tidak ada di jalan bukan seorang mujahadah. Karena yang aku tahu, tak ada dalam kitab apapun itu demo salah satu bentuk jihad.

Ah, berjihad yang kecil saja --melawan hawa nafsuku-- kadang aku kewalahan, bagaimana dengan jihad-jihad besar lainnya seperti kalian? Aku memang tak layak di antara kalian, saudariku. Yang mampu berkumpul bersama para lelaki yang kalian panggil "akhi" dan berpredikat ikhwan. Bukan ... ternyata aku bukan bagian dari kalian.

Aku hanya muslimah biasa. Yang aku tahu, Islam memuliakanku dan kalian sebagai wanita dengan segala kelemahan yang kita miliki. Yang aku tahu, Allah dan Habiballah Muhammad telah sangat memuliakan di antara kita yang berada di dalam rumah, berdiam diri menjaga kesucian, harga diri dan keluarga kita. Bukan di atas trotoar bersama spanduk-spanduk besar yang dijunjung tinggi berdalihkan jihad fii sabilillah.

Saudariku, maaf, aku memang bukan mujahadah seperti kalian yang mau keluar rumah dan sibuk dengan organisasi dan dakwah serta demo-demo yang kalian suarakan. Aku hanya bisa meniatkan diri, mensucikan hati atas nama Allah bahwa perjalanan hidupku mencari ilmu dunia dan akhirat yang bermuara surga hanya hanya untuk-Nya. Bagiku, tiap langkah ini adalah jihad atas-Nya, meski kaki ini tak mampu melangkah bersama derapan para "ikhwan" di jalan-jalan kota Jakarta.

Maaf, jika aku yang kau kenal bukanlah mujahadah, bukan yang mau ikut serta dalam kesibukan dakwahmu. Tapi bagiku, tiap kata yang terangkai oleh lisan ini harus membawa berkah bagi yang mendengar, dan dapat menjadi jalan jihadku dalam menyampaikan betapa damainya Islam.

Maaf, aku bukan mujahadah. Aku tak mampu berjihad bersama kalian. Tapi aku harap, tiap ilmu yang aku peroleh dari semua makhluk Allah dapat menjadi sarana jihadku di tempat yang berbeda dengan kalian. Dengan sedikit ilmu yang aku punya, semoga itu bisa menjadi sarana tersendiri bagiku. Aamin.

Sekali lagi, maaf, aku bukan mujahidah. Tapi, bukan berarti kami (aku dan muslimah sepertiku) tidah berjihad atas Allah. Hanya Allah Tahu segalanya.

Thursday, November 18, 2010

inilah amanah Tuhan padaku

Manusia mana yang tidak memiliki cita-cita? Bahkan seorang anak selokan pun punya cita-cita, meski sekadar untuk tidur di kasur yang empuk dan ruangan yang hangat.

Aku rasa aku termasuk seorang ambisius. Hal itu aku sadari saat membuka catatan kecil yang tersimpan rapi di dalam lemariku. Di sana tertulis daftar cita-citaku yang jika kalian membacanya pasti akan menertawakannya. Bahkan saat membacanya ulang, aku yang menjadi penulisnya pun tersenyum dan berdecak-decak sendiri. Tapi … apa salahnya? Ya, tak.

Sejak dulu, aku bermimpi bisa menjadi dokter jantung atau syaraf. Karena bagiku, jantung adalah ciptaan Tuhan yang maha dahsyat. Organ yang hanya berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa bisa bekerja tanpa henti. Kekuatannya untuk bekerja selama kita hidup itulah yang memotivasi diriku untuk lebih menggali dunia jantung. Lalu, dengan syaraf. Berhubung keponakan pertamaku memiliki kelainan syaraf pada otak kirinya, aku bertekad untuk mengetahui lebih lanjut tentang syaraf, suatu sistem sederhana yang berdampak besar bagi kelangsungan hidup kita.

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Ia tidak menginginkanku untuk menjadi seorang dokter. Hiks… sedih memang, tapi inilah yang Tuhan mau. Sebagai hamba-Nya, aku hanya bisa pasrah dan menerima. Kini aku memang bergelut di dunia medis, tapi bukan di kedokteran. Allah, Tuhan yang (menurutku) gemar memberikan kejutan, memberikanku amanah lain. Kini aku calon seorang farmasis.

Mungkin banyak yang tidak kenal dengan farmasi, tapi setelah aku berada di dalamnya, aku tahu bahwa peranan seorang farmasis tidak kalah pentingnya dengan dokter.

Di sini, di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, aku mendapat banyak pelajaran dari-Nya yang diperantarakan melalui orang-orang yang ada di sekelilingku. Kini aku dapat sepenuhnya bersyukur atas kegagalan-kegagalan yang telah aku terima sebelum akhirnya aku ada di sini.

Melalui kegagalan ini aku menemukan apa yang aku inginkan, dan bisa aku pastikan aku tidak akan menerima semua ini jika Tuhan memberikanku kemudahan di awal.

Di sinilah aku bertemu dengan orang-orang hebat yang tak hanya menguasai dunia kesehatan, tapi juga memadukannya dengan agama. Yang membuat aku lebih kagum dengan teman-temanku, rata-rata di antara mereka memiliki keterpahaman yang baik tentang Islam dan al-qur’an. Bahkan saat membahas kesehatan dan prosedur pengobatan pun, mereka sempat-sempatnya menghubungkan dan membawa ayat-ayat al-qur’an dalam diskusi kami. Ckck.

Dan inilah saatnya aku merasa “bodoh”.

Umm… di saat inilah aku kembali merenung dan me-review alur perjalananku menuju tempat ini. Semakin aku menelaah skenario-Nya, aku semakin yakin bahwa Tuhan sayang pada hamba-Nya. Ya, sangat yakin!!

Jika saja Tuhan meluluskan aku di seleksi PMDK, aku tak menjamin aku akan tetap menjadi seperti dulu, seorang pelajar yang cuek dan tak suka menunjukan apa yang aku punya. Jika Tuhan mengabulkan doaku, aku tak menjamin aku tidak akan menjadi seorang mahasiswa yang besar kepala yang sombong dan sok pandai.

Sungguh!! Tahun ini adalah tahun terbesar yang aku rasakan. Mulai dari keterpurukan, Tuhan menuntunku menuju apa yang sebenarnya aku inginkan. Menjadi ahli medis muslim yang menggunakan metode Islam.

Tuesday, November 16, 2010

TAKLUKAN RIMBA PENGETAHUAN TANPA KEEGOISANMU

Memasuki dunia perkuliahan adalah impian bagi sejumlah besar kalangan remaja yang baru terlepas dari dunia pubertas. Ketika seorang remaja baru saja dinyatakan lulus dari bangku sekolah menengah, yang ada di benaknya adalah apa yang akan ia lakukan setelah ini? Melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi atau universitas adalah pilihan utama bagi mereka yang mampu secara finansial dan akademisi.

Berbagai try out dan ujian masuk universitas menjadi aktivitas yang tak luput dari mereka yang berkeinginan untuk kuliah, sehingga mereka dapat diterima di universitas yang masing-masing mereka harapkan. Tak hanya sampai di situ, topik baru setelah para mahasiswa baru ini diterima di universitas masing-masing adalah bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan paradigma-paradigma baru yang ada di dalamnya.

Bagi saya, dunia perkuliahan bukanlah dunia yang simpel, yang dapat kita mengerti secara langsung apa dan bagaimana “hukum alam” yang berlaku di sana. Mungkin yang ada di benak para mahasiswa baru (teman-teman sebaya saya) adalah kebebasan. Tapi menurut pandangan saya, dunia perkuliahan adalah dunia yang tidak megindikasikan suatu kebebasan, sama sekali. Yang ada dibenak saya, dunia perkuliahan sama halnya dengan hutan rimba, tapi perbedaan rimba yang satu ini adalah tidak adanya hukum alam yang menyatakan “yang kuat yang berkuasa”. Karena bagi saya, di dunia perkuliahan ini kita dituntut bagaimana caranya mempertahankan hidup tanpa merusak kehidupan yang lainnya (asertif).

Idealisme seorang mahasiswa baru yang cenderung ingin menonjolkan diri agar disegani oleh sesama mahasiswa baru, saya rasa adalah kesalahan fatal yang dapat membunuh dirinya sendiri. Ini saya katakan karena ketika saya baru mengenal apa dan siapa itu mahasiswa, ternyata kenyataannya jauh dari apa yang sudah dibicarakan selama saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Bagi saya, dunia perkuliahan yang saya lebih senang menyebutnya “rimba pengetahuan” adalah area yang keberadaan dan efiensinya tergantung pada penghuni rimba itu sendiri. Ketika kita menuruti ego dan keangkuhan diri, maka sekali lagi saya katakan, “Brsiaplah untuk kembali tersesat di hutanmu.”

Di dunia perkuliahan ini, kita akan lebih banyak mengenal orang dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia, bahkan dunia dan juga berbagai watak dan karakteristik orang-orangnya. Di wilayah yang lebih homogen inilah, ego kita masing-masing dilatih untuk bagaimana mengahapi berbagai macam watak dan mental kawan. Dan di sinilah tempatnya untuk mengikis ego kita masing-masing dan belajar menghargai orang.

Ketika baru mengenal dunia perkuliahan, saya yang seorang introvert berkeinginan untuk mengubah diri (tanpa mengubah karakter diri) untuk dapat lebih terbukan supel kepada sesama mahasiswa baru maupun senior. Semua ini saya kira adalah hal yang harus saya lakukan agar dapat tetap survive di “rimba pengetahuan” ini. Karena dengan banyaknya koneksi dan pengetahuan seputar perkuliahan dan hal-hal yang ada di dalamnya, memungkinkan kita (para mahasiswa baru) untuk dapat saling membantu.

Mengingat bahwa tujuan kita kuliah adalah untuk meningkatkan kemampuan kita sebagai sumber daya manusia yang berguna bagi Negara Republik Indonesia, maka saling bersinergi antar satu sama lain adalah suatu hal yang cukup bijak dilakukan oleh seorang mahasiswa, terlebih lagi jika dalam satu fakultas kita menggeluti bidang yang berhubungan seperti Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Dan lagi-lagi, menjadi seorang mahasiswa adalah suatu komitmen yang harus dipertanggungjawabkan keberdaannya. Apakah mahasiswa itu menjadi mahasiswa yang hanya sekadar kuliah dan mengukir prestasi tanpa peduli yang lainnya, atau menjadi mahsiswa yang “suka aksi”, dalam artian aktif di segala bidang. Mulai dari kegiatan akademisi, organisasi, hingga sosial masyarakat. Ketika kita memilih menjadi mahasiswa di posisi pertama, maka kita harus siap-siap tenggelam dan tersesat di dalam rimba ini. Tapi jika kita memilih posisi yang kedua, maka pertanggungjawabkanlah aksi dan komposisi yang ada di dalamnya.

Terlepas dari semua paradigma dan pandangan saya saat menjadi mahasiswa baru, kesan yang paling saya ingat ketika menjadi mahasiswa baru adalah, buang jauh-jauh egositas antar sesama. Karena kita membutuhkan pundak teman kita untuk mencapai tempat yang lebih tinggi lagi. Jangan sampai keegoisan yang kita miliki menjadi bumerang yang dapat menyebabkan kita mati sebelum masuk “rimba pengetahuan".

Thursday, November 11, 2010

pemberian-Nya dan keseombonganku


Ciputat, 11 November 2010 1.48 AM

Lama sekali tak pernah menulis kisah-kisah kembali. Akhir-akhir ini aku lebih sering menulis artikel tentang kesehatan. Entah kenapa, semua seperti sudah diatur oleh Tuhan. Dan kini, ternyata aku benar-benar berkecimpung di dunia kesehatan.

Dapat aku pastikan, aku tak pernah membayangkan akan seperti sekarang ini. Berada di tengah-tengah orang-orang hebat yang mementingkan tingkat kesejahteraan kesehatan tak hanya ditinjau dari sisi medis, tapi juga psikis dan rohani.

Ya, kini aku berada di lingkungan yang dulu pernah aku singgahi. Lingkungan yang kental akan keislaman, tapi juga kaya akan ilmu pengetahuan yang modern dan tak tertinggal dari yang lainnya. Sungguh, aku benar-benar kembali ke masa tujuh tahun lalu. Aku tak tahu apa maksud dari semua ini, apa yang Tuhan mau dariku, lalu, apa yang akan Ia rencanakan untuk hari esokku? Semuanya masih dalam perabaanku terhadap-Nya.

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, di sinilah kini aku berada. Dan semuanya tanpaku duga.

Jika aku melihat kembali masa laluku, rasanya aneh. Entahlah, memang itu yang aku rasakan. Menatap masa-masa sekolah yang masih terekam jelas dalam ingatanku membuat aku semakin panjang dalam memikirkan keberadaanku dan kehendak Tuhan kepadaku.

Ketika di bangku sekolah, mungkin orang-orang yang mengenalku (belum tentu semuanya aku kenal) akan mengira aku dapat masuk ke universitas yang lebih bagus lagi. Haha… inilah uniknya Tuhan. Banyak kejutan dalam setiap hari yang Ia ciptakan. Dan aku, yang kata mereka siswa teladan dan berprestasi selama di bangku sekolah “hanya” bisa di sini J

Menyesal?

TIDAK. Jelas sekali! Mungkin awalnya berat, tapi setelah dihadapi dengan optimis, semuanya baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik. Karena inilah yang sebenarnya yang aku butuhkan. Dan kalian tahu kenapa? Karena Tuhan mengerti diriku.

Dan sekarang bukanlah waktunya untuk melanjutkan keluh kesah dan kemarahan pada Tuhan hanya karena aku tidak mendapatkan yang aku mau. Karena ternyata Tuhan lebih mengerti aku dibandingkan diriku sendiri. Atas nama-Nya, aku benar-benar malu. Malu telah berprasangka buruk pada-Nya.

Jika direnungkan lagi, aku memang pantas mendapatkan ini. Umm. Kenapa?

Jangan heran, karena memang beginilah adanya. Dulu, saat aku masih duduk di bangku sekolah memang seperti yang telah aku katakan sebelumnya, sebagai siswa teladan dan berprestasi. Tapi aku rasa aku sudah cukup kufur dengan segala karunia itu. Ya. Aku berani berkata seperti ini karena aku merasakannya. Misalnya saja saat semua orang mengenal aku sebagai Lisfatul Fatinah yang katanya pandai, bahkan aku tak banyak mengenal banyak di antara mereka. Dan lagi ketika aku mendapatkan PMDK (jalur penerimaan mahasiswa baru tanpa tes) dari Universitas Indonesia, aku menolaknya mentah-mentah. Padahal saat itu banyak teman-teman yang iri padaku dan berharap dapat menggantikan posisiku. Seingatku, aku juga pernah berkata, “sekalipun keterima, nggak akan diambil kok.”

Ckck. Ya Allah. Sesombong itulah aku, saat itu. Hadist di awal postingan inilah yang aku takuti.

Tapi itu semua bukan berarti aku tidak mau menerima karunia Tuhan. Rencana perkuliahanku memang sebenarnya bukan ke Universitas Indonesia, melainkan Universitas Diponegoro, Semarang atau Universitas Sriwijaya, Palembang. Semua itu aku pertimbangkan berdasarkan kualitas dan prestasi universitas tersebut saat itu. Selain itu, aku juga ingin merasakan menuntut ilmu jauh dari orang tua.

Saat proses seleksi PMDK aku memilih program studi farmasi. Entahlah kenapa aku memilih program studi ini, padahal aku tak tahu apa dan bagaimana farmasi itu. Hingga tiba saatnya hasil seleksi diumumkan, namaku tak tercantum di dalamnya. Menyesal? YA!! Saat itu sangat menyesal. Seluruh semangatku dalam menuntut ilmu luntur seketika.

Ujian demi ujian aku lakukan dengan memilih universitas yang sama dan program studi yang sama. Tapi hasilnya nihil. Hingga di detik-detik akhir ujian masuk universitas, orang tuaku, ibuku lebih tepatnya berkata, “jangan terlalu dipikirin. Memang universitas cuma satu aja? Lagi pula universitas bukan patokan suksesnya seseorang. Semua tergantung orangnya. Kalau memang layak untuk sukses, pasti akan sukses. Di mana pun ia berada.”

Mendengar perkataan ibu yang diucapkan di dapur saat aku sedang bermalas-malasan di kamar, aku langsung merasakan kehadiran Tuhan. Keyakinan akan kasih sayang-Nya. Saat itu juga aku bangkit dan menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan shalat dhuha. Dari sinilah aku mulai berpikir. Saat ini juga aku memporak-porandakan mind set dan perasaanku sendiri di atas sajadah. Tersungkur bersama air mata dan gejolak yang selama ini tersimpan rapi.

Kini, aku tahu Tuhan sudah cukup adil padaku, sangat adil. Mulai dari penolakan pendaftaran PMDK dan ujian-ujian masuk universitas negeri. Ya. Karena aku sudah menolaknya sebelum mendaftarkan diri, lalu apa gunanya Ia membiarkan aku diterima? Bukankah lebih baik “jatah”ku nantinya diberikan kepada orang yang benar-benar menginginkannya. Dan di detik-detik terakhir inilah aku merenung dan mengubah pilihanku. Mulai dari hanya tertuju pada satu universitas kini mulai melirik universitas yang lain, begitu pula dengan program studi yang aku pilih.

Dan kini, aku ada di sini. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan. Aku pun bisa berkata, “Terima kasih Allah. Kau Maha Mengerti apa yang aku butuhkan.” J Kalian tahu kenapa? Aku ceritakan di postingan selanjutnya.

Bye… Bye…

Saturday, November 6, 2010

saya kan ga kenal Tuhan!

sebelumnya, tulisan ini pernah aku tulis di di note fecebook.. semoga bermanfaat
***

teringat perkataan seorang guru dikala menjelang Ujian Nasional. pak guru berkata, "apa yang kalian mau, Nak?" kami ddiam, menantinya melanjutkan kata-kata. "gak usah terlalu khawatir, NAk. kalian gak usak terlalu memforsir tenaga untuk belajar sampai lupa makan dan stress." beliau diam kembali dan melanjutkan dalam helaan nafas yang sama, "kalian tahu Tuhan? kenal? nah, kenali Tuhan. dekati Dia, peluk Dia. tapi ingat, jangan sekali-kali mengkhianatinya!"
**

perkataan beliau tiba-tiba terdengar kembali di telinga ketika aku melihat dialog seorang lelaki yang memohon pertolongan kepada ustadz.

"saya mohon, tolong saya, Tadz." lelaki muda memelas
"saya gak bisa bantu apa-apa, mas. minta tolong itu sama Tuhan." jawab ustadz
"kan saya gak kenal sama tuhan, Tadz. saya kenalnya sama ustadz." lelaki muda menjawab dengan lugu
"hehehe. ya kenalan dong, Mas!" lalu sang ustadz pergi meninggalkan lelaki muda sendirian.
**

adakah di antara kita yang tahu Tuhan? lalu apakah kalian mengenal-Nya?
banyak di antara kita bahkan demikian juga dengan si empunya note ini yang terlalu disibukkan oleh kehidupan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. sampai-sampai kita, sang hamba, tak punya waktu untuk menganal Sang Pencipta.

sadarkah bahwa Tuhan itu Maha Pengasih yang tidak pernah pilih kasih. Ia menyayangi hamba-Nya yang mengenal-Nya, maupun yang tidak. seorang hamba yang ingkar sekalipu masih bisa menghirup sejuknya wangi rumput yang berpadu dengan embun di pagi hari, masih bisa merasakan hangat di dindinnya malam, dan masih bisa merasakan nikmatnya menguap. iya kan?

tapi ketika kita sedang murung, sedih, atau merasa kurang puas atas apa yang diperoleh di kehidupan ini, kita mulai mengadu, mengeluh, dan bermanja-manja di hadapan Tuhan. berusaha menyapanya sebentar untuk meminta apa yang belum kita dapatkan. tapi ketika kita sudah mendapatkan segala pemberiaan-Nya, kita meninggalkan-Nya sampai kekurangan, kesedihan dan keluhan itu kembali datang.

inilah pengkhianatan pada Tuhan. kebiasaan seorang hamba yang belum mengenal-Nya.

tapi ada perbedaan antara yang mengenal-Nya dan yang tidak. ilusinya mudah saja. misalkan Anda adalah tuhan dan kerabat Anda adalah hamba Anda.

suatu hari Anda berjalan dan bertemu dengan dengan dua orang. yang satu adalah kerabat And dan yang lain adalah orang yang baru Anda kenal. lalu keduanya meminta pertolongan berupa pinjaman uang, sedangkan Anda hanya memiliki uang untuk dipinjamkan kepada salah satunya. manakah yang Anda utamakan?

lalu? maukah Anda diutamakan oleh Yang Pertama? -FatulNC-


Friday, June 25, 2010

Potret Jakarta di 483


22 Juni lalu, Jakarta berulang tahun (berkurang umur mungkin lebih tepatnya) yang ke 482. meskipun tanggal tersebut masih menjadi perdebatan di antara para sejarahwan, tapi Pemerintah DKI JAkarta tetap menetapkan bahwa tanggal 22 Juni sebagai hari ulang tahun kota Jakarta.

untuk menyambut ulang tahun ibu kota ini, seperti biasa dibukia Pekan Raya Jakarta atau PRJ yang diadakan di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. semakin tua usia Jakarta, semakin banyak dan meriah cara para penghuninya untuk merayakan ulang tahunnya. tapi apakah ada sedikit saja rasa bagi mereka termasuk saya untuk memperbaiki apa yang ada di dalamnya?

miris rasanya saat kita berjalan selalu ada seorang pengemis yang menghampiri. di setiap lampu merah, kini kita tak luput dari sapaan tangan yang menengadah di hadapan kendaraan kita. mereka beragam. ada tua, ada muda. ada yang berjalan dengan kaki yang terserok-serok, ada pula yang berjalan dengan tangan yang menggelayutkan badan. ada yang menggendong bayi atau anaknya, ada pula yang menggendong ayah atau ibunya. ada yang bernyanyi, ada juga yang berpuisi. hm.. semuanya sudah saya temui di kota tercinta ini.

Jakarta. di usianya yang kian renta, semuanya berubah. dulu, ketika saya bepergian, yang ada hanya pohon-pohon besar dan jarak gedung-gedung megah yang berjauhan. tai sekarang? semua dibuat apartemen, setiap berjalan, pantulan cahaya matahari oleh kaca-kaca gedung saling bertabrakanh. di mana-mana macet. di mana-mana banjir. di mana-mana ada saja kejutan dari penghuninya. dan yang sedang gencar di daerah tempat saya tinggal sekarang, di mana-mana pusat pembelanjaan.


Jakarta, oh Jakarta. mengapa Bunda tak lagi bijaksana?

Thursday, June 17, 2010

GOOD BYE ... putih abu-abu

tidak salah jika banyak orang yang mengatakan
masa SMA itu masa-masa yang paling indah


bagi saya, masa SMA bukan hanya masa yang indah, tapi jauh lebih indah dari kata indah itu sendiri (entahlah ... kalian mengerti ini atau tidak). Senior High School, bukan hanya masa klimaks dari pubertas seorang remaja. tapai, masa SMA adalah "masa pencarian harta karun". hahaha, sepertinya kurang tepat jika saya mengatakan demikian. karena menurut saya (selaku tokoh yang baru saja melepas labelnya) harta itu sama sekali belum saya ketahui keberadaannya saat saya masih menyandang predikat siswa.

hmmm ... (berpikir sejenak) ... mungkin "mencari pengalaman" adalah rangkaian kata yang paling tepat untuk masa SMA.

mengapa demikian?

coba kita berpikir dengan sederhana dan ringan-ringan saja. di sekolah, kita banyak menemui hal baru, apapun itu. tanpa kita sadari, di masa SMA ini kita kembali ke masa balita kita. apapun yang baru kita temui ingin kita ketahui seluk-beluknya. mau contoh? aahh, bagi yang sudah pernah menikmati betapa indahnya SMA pasti sudah tahu. ok. ok. baiklah.

bagi yang "belum" mengenal apa dan siapa itu cewek/cowok, pastp, dijaminlaah, mereka mulai terbuai dengan makhluk yang berbeda dengan mereka. jika di antara kita ada yang mengatakan, "nggak juga, tuuuhh...". halaah, "nggak" untuk mengatakannya. hhe, pasti ada kisah seperti ini di diri kalian. seklaipun kisah ini kalian buat sendiri, dengar sendiri dan kalian rasakan sendiri. di sisi lain, kita yang baru mangenal apa dan siapa saja yang ada "di sana" pasti geregetan untuk menghampiri dan setidaknya menyentuh sejenak apa dan siapa yang ada di luar sana

*sampai sejauh ini, saya anggap kita sama-sama mengerti apa yang saya bicarakan. haha, beginilah saya, asik dengan dimensi yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri

sejauh ini, saya masih yakin bahwa yang sebenarnya kita dapatkan di dunia SMA adalah "pengalaman".

bagaimana dengan yang lainnya? sama saja ah. sepintar atau setidak pintarnya seseorang (maaf, bagi sebenarnya saya tidak setuju dengan kata pintar, mungkin lebih bijaknya, siapa yang lebih mengerti dan siapa yang tidak)
percaya atau tidak. silakan tanyakan pada diri Anda sendiri :)

PENGALAMAN. banyak. banyak sekali pengalaman yang sudah saya terima dari SMA. entah kenapa, saya baru mengerti siapa saya setelah saya masuk SMA. saya baru tahu kalau saya seseorang cuek, menyebalkan, aneh, dan suka hal-hal yang menantang di fase putih abu-abu. dan yang membuat saya heran diri saya sendiri, saya baru menyadari bahwa saya lebih nyaman berteman dengan laki-laki. alasanna? ya, karena jalan pikiran saya agak berbeda dengan teman-teman sejenis saya :P
huaah. forget it!!

menulis postingan kali ini, saya jadi teringat perkataan saya beberapa bulan yang lalu. saya pernah berkata, "asiik, sebentar lagi ngelepas abu-abu...". pernyataan itu saya ucapkan di kelas kimia saat mengikuti pelajaran tambahan di sekolah tercinta. tak sadar jika pernyataan saya terdengan oleh pengajar, beliau menjawab penyataan saya (padahal gak tanya dia :P), "ahh, yang bener asik? udah dilepas nanti juga kangen lagi. haha". beliau mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.

huumm, benar apa yang beliau katakan. hiks. kangen rasanya dengan bangju sekolah yang tertata rapi dan kesibukan kami (siswa-siswi) berdesak-desakan ketika moving di pergantian jam pelajaran. kangen dengan debat dikelas yang terkadang mendapat tepuk tangan riuh dari kawan sendiri atau gerutu dan ucapan-ucapan teman yang terkadang menusuk karena merasa kesal dengan argumen-argumen dan berbagai macam pertanyaan gila yang saya ajukan :P
istilah kerennya.. KANGEN BERAT!!

hmm... setelah resmi lepas dari putih abu-abu (eskipun belum memegang ijazah), saya akui
masa SMA itu sangat indah

lebih indah dari kata-kata indah yang ada di dunia.

Good Bye putih abu-abu...
kawan, sampai bertemu lagi dengan alamater kebanggaan kita masing-masing

SCISSOR [science save soul and solidariti)
D'1SC [d only 1 science class]
Babe Zoulla ...

hhe, malu bilangnya ...
I MISS YOU :)

forget it :P

Monday, May 24, 2010

Russky i Mne

Russia dan Aku


ini tulisan pertamaku tentang Russia. kalimat pertama yang pasti aku dengar saat saya sedang mempelajari bahasa maupun tulisan Russia di sepan teman-temanku adalah
apa yang Lisfa suka dari Russia? iihh komunis kau jilbab?
ck, apa salahnya mempelajari budaya orang lain apalagi Russia dan apa yang salah dengan Komunis?

pertama kali aku mengenalnya sebagai Uni Soviet, negara adaidaya dimasa Perang Dunia II. dulu, aku memang kurang suka sejarah; aku tidak tahu banyak mengenai sejarahnya. tapi sekarang sedang mencoba mengenal sejarah, paling tidak sejarah silsilah keluarga :) lanjut, setelah itu, di kelas 8 MTs, salah satu cita-cita adalah keliling Eropa, termasuk Russia.selain itu, huruf Russia yang cyrillic juga semakin menguatkan rasa ingin tahu ini.

hm, apalagi yah? yang akutahu hanya itu, selebihnya aku menyukainya begitu saja tanpa ada alasan apa-apa lagi. dan terlebih sekarang aku memiliki banyak teman yang bisa membantuku untuk lebih mengenal Russia, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

kalau komunis. apa yang salah dengan komunis? komunis ideologi yang sesuai dengan jalan pikiranku. yah, untuk penekanannya, komunis buka ateis. bukan! komunis lebih bijak dari kapitalis, huumm, seandainya dunia ini dikendalikan oleh komunis :)

yang aku tegaskan kepada teman-temanku adalah
kenali komunis dengan baik terlebih dahulu, baru kalian bicara padaku.


Aeta Russky i Mne :)

Sunday, July 5, 2009

Anekdot Tafsir Cinta

Alkisah, terdapat tiga orang filsuf yang sedang berdebat daam sebuah rumah yang gelap dan hanya diterangi oleh cahaya bulan yang menyelinap di antara celah bilik-bilik rumah.

Dialog mereka terdengar begitu sengit. Dan tak ada yang tahu, mengapa mereka dapat bertemu dalam waktu yang bersamaan. Meskipun itu terjadi, pasti ada hal yang sangat penting untuk mereka diskusikan. Dari dalog yang terdengar, mereka sedang berdebat mengenai makna ‘cinta’. Mereka memang sudah tua. Namun, adakah batas usia seseorang untuk membicarakan cinta?
Tiga orang filsuf tersebut adalah Karl Marx sang filsuf materialis, Rene Descartes si filsuf rasionalis dan Jalaluddin Rumi seorang filsuf penyair sufi dari Persia. Berikut adalah perdebatan mereka:

Marx : menurutku, cinta itu seperti tongkat ini. Ia harus terwujud dalam suatu bentuk yang dapat
dilihat oleh mata. Juga dapat dirasakan oleh ondra. Selain itu, sulit untuk membuktikan
adanya cinta,
Rene : bukankah ia bersifat abstrak?
Marx : Betul.. Artinya …
Rene : Kalau begitu, ia tidak bersifat abadi. Bagaimana kalau tongkat itu rapuh, patah dan rusak?
Bagaimana jika kau berganti tongkat?
Menurutku tidak seperti itu. Kesadaranlah yang membuat kita terpesona akan indahnya cinta.
Bisakah kau mencumbu kekasihmu tanpa kesadaran?
Dengan kesadaran, orang akan tahu bahwa ia bagian dari cinta.
Tak ada lagi egosentristak, apalagi kehendak yang tak terbatas.
Semua bertautan denga koridor yang disadarinya. COGITO ERGO SUM
Marx : benar, tapi bagaimana dengan pembuktiannya?
Rene : apakah segala sesuatu perlu pembuktian empirik?
Kawan Rumi, bagaimana menurut Anda?

Rumi yang lebih banyak diam terperanggah.

Rumi : cinta hanya ada di sini. –ia berbicara sambil menunjuk dadanya—
Cinta itu terlalu suci untuk diteorikan. Biar aku mengalah saja, aku sudah menemukan
cintaku, dan itu hanya untukku.

Lalu Rumi menari sambil tersenyum riang.
****************
Lalu, apakah makna ‘cinta’ bagi Anda?

Tuesday, June 30, 2009

BINGUNG, KEPADA PARA PECINTA

Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang cinta, dan ini adalah kisah nyata yang saya dengar dan saya lihat di kehidupan saya.
******
Kurang lebih dua minggu yang lalu, temanku memanggilku saat aku baru melangkahkan kaki memasuku gerbang sekolah. Yah, aku kira ada sesuatu yang penting. Di awal pembicaraan kami membicarakan serial korea yang sedang membooming saat ini, di podium upacara. Tapi seperti biasa, pembicaraannya berlanjut kepada kabar kekasihnya. Dan kalian tahu apa yang ia katakana tenang kekasihnya? Ia telah memutuskan hubungannya dengan kekasihnya. Dan apa yang menyebabkan benang percintaan di antara mereka putus? Jawabannya hanya karena uang sebesar Rp32.000,00.

Menurut cerita dari fulanah, orang tuanya berhutang uang voucer pulsa sebesar Rp.32.000,00. dan si fulan tersebut meminta sang kekasihnya alias fulanah untuk mentransfer uang tersebut melalui bank. Nah, karena orang tua si fulanah tidak mentransfer uang tersebut dalam waktu dekat, si fulan memarahi fulanah dengan kata-kata kasar. Dan karena fulanah sudah sangat sebel dengan sifat kekanak-kanakan si fulan, ia langsung meminta untuk mengakhiri hubungan mereka.

Huhf, just that. Hanya karena hal sepele seperti itu, sepasang insan yang hampir satu setengah tahun harus mengorbankan hubungan mereka.

Bingung, bingung, bingung. Bingung banget rasanya kalau harus mendengarkan berbagai curhatan teman yang sangat komplit konfliknya. Dan sebagai orang yang diminta untuk mendengarkan, saya berusaha melaksanakannya denga baik. Kalau mereka meminta saran, yah saya usahakan memberikan saran yang terbaik bagi mereka. Dan meskipun begitu saya harus entralkan hati sebelum mulai berbicara.

Mungkin merka tidak tahu kalau saya pun butuh wadah untuk curhat seperti mereka. Atau karena memang saya terlalu pendiam, penyendiri dan sangat tertutup? Maka mereka tidak tahu itu, dan saya tidak ingin mereka mengetahuinya. Wallahu’Alam.

Hm, kembali ke curhatan teman saya di pagi hari itu. Setelah menjalankan tugas sebagai pendengar, saya melangkah ke perpustakaan sekolah untuk menghilangkan rasa bosan. Hari ini tak ada kelas, dan tak ada banyak kegiatan di sekolah. Yang terdengar hanya sorak-sorai antar kelas yang menjadi supporter kelas masing-masing dalam lomba futsal dan basket. Di perputakaan ini, saya membaca sebuah buku yang cukup menarik. Kalau tidak salah judulnya KIsah-kisah Orang Bijak. Buku itu tidak terlau, tebal, dan ukurannya pun relatif kecil. Aku membacanya di depan komputer purpus. Dan setelah merasa bosan, saya menyalakan komputer hanya sekedar melihat status-status terbaru dari teman-temanku di facebook. Dan termasuk, meng-update statusku sendiri.

Tak lama setelah itu, akau keluar dan masuk ke ruang fisika yang memang menjadi kelas sementara bagi jurusan IPA. Di ruangan itu, aku bertemu kembali dengan fulanah yang curhat denganku pagi tadi. beberapa menit setelah duduk-duduk bersama teman yang lainnya, fulanah ini ijin untuk keluar sebentar.

Ketika itu, aku juga ingin mencari temanku di kantin sekolah. OMG, kalian tahu apa yang baru saja aku lihat? Si Fulanah telah berduaan dengan lelaki lain. Dan keesokan harinya saya mendengar dari mulutnya sendiri mbahwa ia telah pacaran dengan lelaki yang ada di kantin. Huhf. Kok bisa, ya? Hanya itu kata yang ada di pikiranku. Aku hanya bias berkata, ‘oooh’ dan geleng-geleng kepala di belakangnya.

Eit, aku tidak cemburu. Aku hanya malu melihat sikapnya yang seperti itu. Dia seorang wanita sama sepertiku. Dan mengapa ia bias memperlakukan lelaki seperti itu. Seenaknya gonta-ganti, seperti ganti baju saja.

Dan yang lebih mengejutkan, kini ia telah kembali menjalin hubungan dengan si fulan yang kekanak-kanakan itu. Lalu apa kabar dengan lelaki yang ada di kantin. Hoh, I don’t know about him.

Allah, Allah. Kok ada yah yang bias mempermainkan perasaan seperti itu. Bias-bisanya ia melupakan dan medekati orang lain atas nama cinta. Bukankah cinta itu anugrah terbesar yang Allah ciptakan? Mau jadi apa dunia kalau tidak ada rasa cinta antar manusia? Dan mau jadi apa kita, jika Allah menciptakan kita semua tanpa rasa cinta. Na’udzubillah, tsumma na’udzubillah. Semoga hamba dapat menjdi orang yang senantiasa menjaga cinta dan dicintai olehMu. Amin.
****
Maaf, saya menulis artikel ini bukan untuk menyebarkan keburukan orang lain. Hanya sebagai pelampiasan rasa tak percaya saya terhadap si fulanah. Dan sebagai bahan instropeksi diri bagi kita semua. Semoga bermanfaat dan dapat saling memgingatkan,

Monday, January 5, 2009

KADO UNTUK GURU


"ayeee..
semuanya, bosankan di rumah?
rapat rohis yuk!! ada hal penting yang mau gue omongin.
ini penting, tolong datang !!"

itulah sms yang aku terima dari teman, aku kira apa? ternyata, cuma buat ngomongin ulang tahun guru kita tercinta 'bu Tuti Qomariah' alis bu Qoqom alias bu cocom

selamat ulang milad yah BU...
semoga umur ibu berkah.
semoga dalam tiap langkah ibu selalu terpayungi keridhoanNya
semoga ibu mendapat syafaat Rasulullah di yaumil akhir kelak,
dan semoga semua hal yang ibu ajarkan pada kami dapat kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. (hiks kaya mau perpisahan aja : p)

hmmm, gak kerasa judah hampir dua tahun aku diajarin sama ibu, terimakasih banyak guruku tercinta.
semoga murui-muridmu dapat menjadi generasi yang cerah, secerah mentari dhuha dan senantiasa menghangatkan dunia
Amiiiin, amiiin