Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Saturday, January 15, 2011

Maaf, Aku Bukan Mujahadah


bismullahirrahmanirrahim
dengan nama Tuhan Yang Memberi kekuatan padaku untuk dapat terus berdiri hingga kini.



Aku hanya wanita yang alpha, penuh borok di sana-sini. terlahir sebagai muslim saja, aku sudah sangat beruntung. Bisa mengenal kalian yang sesama muslim dan kalian yang nonmuslim semakin membuatku bersyukur dengan keberadaanku sekarang sebagai muslimah. Mengenal kalian, membuatku semakin paham tentang apa sebenarnya Islam dan bagaimana Tuhanku, Allah swt. Mengenal kalian, saudara seiman dan kawan-kawan nonmuslim, membuatku semakin tahu betapa Allah menyayangiku dengan segala kekurangan dan keterbatasanku di mata manusia.

Statusku sebagai muslimah hingga kini, aku rasa bukan apa-apa. Karena aku tidak seperti kalian, saudari seiman yang biasa saling menyapa dengan sebutan "ukhti". Yang saling mengatakan kalian dan yang seperti kalian adalah "akhwat", yang kalian katakan wanita yang taat pada Allah karena jilbab yang panjang menjuntai dan tebal. Aku bukan wanita yang kalian kira berilmu tinggi tentang Islam dan tentang Allah. Tidak, aku tidak di antara kalian.

Aku bukanlah makhluk Tuhan yang kaya akan ilmu dan memiliki keterpahaman agama yang luas seperti kalian. Tapi, di setiap tempat aku dapat duduk, di sana aku berusaha mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya, dari manapun itu. Dari guru, teman, kerabat, bahkan dari kalian (para saudari akhwat), dari dedaunan yang gugur dan jatuh ke tanah, dari burung yang mampu terbang bebas melesat mengudara, atau dari anjing, makhluk-Nya yang dikatakan najis sekalipun.

Aku tidak seperti kalian, yang dengan mudah menebarkan senyuman. Aku hanya bisa menunduk dan terdiam dalam kesendirian, dalam duniaku. aku bukan kalian.

Aku tidak seberani kalian yang mau keluar rumah untuk masalah organisasi dan pulang larut malam dengan dalih rapat demi kebaikan dan demi nama Allah. Maaf, aku tidak bisa seperti itu, karena bagiku keberadaanku sebagai wanita lebih aman di dalam ruanganku.

Aku tidak bisa seperti kalian yang turun kejalan membawa spanduk-spanduk besar dan berteriak menyuarakan yang kalian inginkan dengan kibaran jilbab-jilbab panjang kalian. Bukan, aku bukan kalian. Karena yang aku tahu, suaraku adalah bumerang bagiku. Teriakan itu, bukan milik wanita Allah.

Aku memang bukan kalian yang mau ikut organisasi ini dan itu, yang lagi-lagi mengatakan berjihad di jalan Allah dengan berbondong-bondong ke pusat kota dengan kibaran pakaian taqwamu bersama panasnya udara Jakarta. Sungguh saudariku, aku tidak bisa seperti kalian. Lagi-lagi, aku hanya bisa berjihad dengan sedikit ilmuku.

Aku memang bukan mujahadah seperti kalian yang turun ke jalan. Tapi, tak layak pula kau katakan yang tidak ada di jalan bukan seorang mujahadah. Karena yang aku tahu, tak ada dalam kitab apapun itu demo salah satu bentuk jihad.

Ah, berjihad yang kecil saja --melawan hawa nafsuku-- kadang aku kewalahan, bagaimana dengan jihad-jihad besar lainnya seperti kalian? Aku memang tak layak di antara kalian, saudariku. Yang mampu berkumpul bersama para lelaki yang kalian panggil "akhi" dan berpredikat ikhwan. Bukan ... ternyata aku bukan bagian dari kalian.

Aku hanya muslimah biasa. Yang aku tahu, Islam memuliakanku dan kalian sebagai wanita dengan segala kelemahan yang kita miliki. Yang aku tahu, Allah dan Habiballah Muhammad telah sangat memuliakan di antara kita yang berada di dalam rumah, berdiam diri menjaga kesucian, harga diri dan keluarga kita. Bukan di atas trotoar bersama spanduk-spanduk besar yang dijunjung tinggi berdalihkan jihad fii sabilillah.

Saudariku, maaf, aku memang bukan mujahadah seperti kalian yang mau keluar rumah dan sibuk dengan organisasi dan dakwah serta demo-demo yang kalian suarakan. Aku hanya bisa meniatkan diri, mensucikan hati atas nama Allah bahwa perjalanan hidupku mencari ilmu dunia dan akhirat yang bermuara surga hanya hanya untuk-Nya. Bagiku, tiap langkah ini adalah jihad atas-Nya, meski kaki ini tak mampu melangkah bersama derapan para "ikhwan" di jalan-jalan kota Jakarta.

Maaf, jika aku yang kau kenal bukanlah mujahadah, bukan yang mau ikut serta dalam kesibukan dakwahmu. Tapi bagiku, tiap kata yang terangkai oleh lisan ini harus membawa berkah bagi yang mendengar, dan dapat menjadi jalan jihadku dalam menyampaikan betapa damainya Islam.

Maaf, aku bukan mujahadah. Aku tak mampu berjihad bersama kalian. Tapi aku harap, tiap ilmu yang aku peroleh dari semua makhluk Allah dapat menjadi sarana jihadku di tempat yang berbeda dengan kalian. Dengan sedikit ilmu yang aku punya, semoga itu bisa menjadi sarana tersendiri bagiku. Aamin.

Sekali lagi, maaf, aku bukan mujahidah. Tapi, bukan berarti kami (aku dan muslimah sepertiku) tidah berjihad atas Allah. Hanya Allah Tahu segalanya.

Saturday, January 8, 2011

Ingrid Mattson: Dari Nasrani, Atheis hingga Islam


tulisan saya kali ini bukan murni buah kata dar pikiran saya, melainkan hanya repost sebuah artikel dari salah satu situs berita. mengingat isi dari berita ini cukup menarik untuk diketahui, jadilah saya repost artikel ini di blog saya dengan harapan bisa berbagi ilmu yang terkandung di dalamnya. yup. silakan di tengok :)

***

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Masih ingat Ingrid Mattson, salah satu tokoh yang diundang pada inaugurasi Barack Obama setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu dua tahun lalu? Dia yang menjabat presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang kini cukup berpengaruh di Amerika Serikat.

Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang filsafat dari Universitas Waterloo, Ontario, pada 1987. Sementara gelar PhD pada studi Islam ia peroleh dari Universitas Chicago pada 1999. Penelitiannya mengenai Hukum Islam dan Masyarakat. Selama kuliah di Chicago, ia banyak terlibat pada kegiatan komunitas Muslim lokal.

Ia duduk dalam jajaran Direktur Universal School di Bridgeview dan anggota komite Interfaith Committee of the Council of Islamic Organizations of Greater Chicago. Mattson juga pernah menetap di Pakistan dan bekerja sebagai pekerja sosial bagi pengungsi wanita Afghanistan selama kurun waktu 1987-1988. Pada 1995, ia ditunjuk sebagai penasihat bagi delegasi Afghanistan untuk PBB bagi Komisi yang membidangi Peran Perempuan.

Saat bekerja di kamp pengungsi di Pakistan inilah ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, Amer Aetak, seorang insinyur dari Mesir. Dari pernikahan mereka, pasangan ini dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soumayya dan satu orang anak laki-laki bernama Ubayda.

Karena pernikahankah ia berpindah agama? Tidak, ternyata. Ingrid mengenal Islam jauh sebelum itu.

Tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, ia memutuskan berhenti pergi ke gereja pada usia 16 tahun. Ia mengemukakan alasan yang kemudian diterima oleh ayahnya, seorang pengacara: tidak bisa lagi percaya dengan apa yang diajarkan oleh gereja.

Ia menjadi tak berama hingga menimba ilmu di Universitas Waterloo. Seni dan filsafat menjadi jurusan pilihannya. Bagai dipandu, bidang inilah yang kemudian hari mengantarkan pada cahaya Islam.

****

''Setahun sebelum saya masuk Islam, saya banyak menghabiskan waktu saya mencari dan melihat hal-hal yang berhubungan dengan seni. Saat mengikuti pendidikan bidang filsafat dan seni rupa, saya duduk berjam-jam dalam ruang kelas yang gelap untuk melihat dan mendengarkan penjelasan profesor saya melalui infokus proyektor, tentang kehebatan hasil karya Seni Barat,'' paparnya.

Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo tempatnya bekerja kemudian, ia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, ia berjumpa dengan seorang Muslim. Ia menyebut momen tersebut sebagai "musim semi" dalam hidupnya.

Gambaran mengenai Islam yang ia dapatkan dari kedua orang teman barunya ini, membawa Ingrid pada pengenalan wajah Islam. Ia menyatakan tertarik pada peradaban Islam tidak menganut sistem penggambaran sesuatu dalam bentuk visual di dalam memuja Tuhan dan menghargai seorang nabi.

''Allah adalah sesuatu yang tersembunyi. Tersembunyi dalam pantulan mata umat manusia. Tetapi, orang yang memiliki penglihatan dapat mengenali Tuhannya dengan melihat, mempelajari pengaruh dari kekuatan ciptaan-Nya.''

Ia pun mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga.

Perkenalan Ingrid tentang Islam makin berkembang saat ia berkunjung ke sejumlah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Beberapa peristiwa yang dia temui di negara-negara tersebut, diakuinya, makin mempertebal keyakinannya terhadap Islam.

Maka di tahun yang sama, ia memutuskan bersyahadat dan menjadi Muslimah. Ia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab.

Pada tahun 1987 ia memutuskan pergi ke Pakistan sebagai relawan. Setahun ia mengabdikan diri bagi kemanusiaan. Ternyata di tempat yang sama, ada pula seorang pemuda yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya memutuskan menikah.

"Ibu-ibu Pakistan bertkaca-kaca saat saya bilang hanya emas sederhana sebagai mahar dan baju pengantin pinjaman. Di hari berikutnya, mereka datang dengan membawa segudang hadiah. Sungguh indah persaudaraan dalam Islam," ujarnya.

Monday, November 8, 2010

dr. Jose Rizal, MER-C, dan prinsip ikhlash


Siapa yang tak kenal dengan dr. Jose Rizal Jurnalis??

Bagi kalian yang berkecimpung di dunia kesehatan dan melek berita internasional, khususnya perang di Palestin, pasti tak asing lagi dengan nama ini. Pak Jose, seorang dokter terkenal di Indonesia dan aktif turun ke tempat-tempat konflik, adalah sosok yang membuat saya semakin mencintai ilmu yang sedang saya gelitu. Pengobatan dan kesehatan. Pada artikel kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman dan kisah tentang beliau dan bidang yang sedang digelutinya.

MER-C


Berawal dari konflik antar katholik dan muslim di Sulawesi Selatan beberapa tahun silam, ia membentuk suatu tim medis yang berperan di wilayah-wilayah konflik dan bencana. Saat itu, pak Jose yang berperan sebagai relawan melihat banyak aparat dan tenaga medis yang tidak netral dalam menolong para korban di tempat kejadian. Mereka akan melihat latar belakang korban seperti suku, kedudukan, bahkan agama dalam penangan pertama.

Hal inilah yang mendorong pak Jose beserta teman-teman seprofesinya untuk membentuk lembaga kesehatan bernama MER-C. seperti dikatakan sebelumnya, MER-C bergerak di wilayah-wilayah konflik seperti Palestina, Afghanistan dan Irak. Banyak kisah yang dituturkan beliau tentang MER-C, dimulai dari empat orang dokter yang mengumpulkan biaya melalui link-link yang mereka punya, mereka masuk ke medan perang, mtanpa bantuan pemerintah sedikit pun saat itu.

Bahkan ketika satu di antara kami menanyakan bagaimana caranya mereka bias masuk ke daerah knflik yangsangat berbahaya tanpa ada backup dari pemerintah, pak Jose hanya menjawab,” kami punya banyak teman tak terduga dari berbagai belahan dunia dan satu tujuan dengan kami. Yakni menolong saudara karena Allah.”

Yang saya saluti, mereka adalah para dokter yang tak hanya ahli di bidang kesehatan. Tiap orang dari mereka memiliki keahlian pribadi, ada yang dibidah montir (otomotif), computer, dan bahasa. Jadi, mereka tidak merasa kesulitan dalam membentangkan bantuan ke tempat-tempat yang tak dikenali sekalipun.

Biaya dari amal saudara-saudara yang peduli

Mendengar kisah perjalanan MER-C, saya penasaran dengan biaya yang mereka gunakan. Karena sebagaimana yang kita ketahui, medis bukanlah hal yang murah, mulai dari perlengkapan pemeriksaan, obat, hingga perangkat operasi yang pasti dibutuhkan, dan ongkos perjalanan hingga ke negara seberang. Sungguh mencengangkan, dana yang mereka gunakan bukan dari pemerintah, melainkan murni dari bantuan saudara-saudara Indonesia yang peduli dengan sesama. Bahkan berdasarkan data yang ada di MER-C, tercatat miliyaran rupiah yang digunakan untuk bantuan medis. Namuin, untuk ongkos perjalanan para dokter dan relawan, dikenakan biaya sendiri.

Uang amanah rakyatlah yang kita gunakan untuk saudara-saudara kita. Begitulah pak Jose mengatakannya. Doakan kami agar kami tetap amanah dan selamat dalam perjuangan ini. Kalaupun harus mati terkena tembakan atau bom di sana (negara konflik), semoga Allah mencatatnya sebagai pahala syahid.


Dokter muslim yang memegang prinsip ikhlas

Pada pertemuan pertama ini, talk show MER-C di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN SYAHID Ciputat, banyak ilmu yang dapat saya serap dari beliau. Bagaimana menjadi seorang tenaga medis yang menolong dengan profesional dan istiqamah dalam berniat.

Ikhlash. Ya. Hanya satu kata, tapi berdampak besar pada diri kita, terutama para ahli medis. Pak Jose yang seorang dokter sperialis ortopedi ini mencoba menanamkan prinsip ikhlash bagi kami mahasiswa yang berperan dalam dunia kesehatan. Menjadikan kalian tenaga medis muslim yang militan tanpa fanatik. Begitulah beliau berkata.

“PRINSIP IKHLASH DAPAT MEMBUKA MATA HATI YANG TERTUTUP.” Itulah perkataan pak Jose yang masih saya ingat dan tercatat rapi di buku catatan kecil saya. Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia kesehatan dan pengobatan khususnya, seharusnya kita tidak membedakan siapa yang lebih mampu dan siapa yang tidak, siapa yang berpangkat dan siapa yang bawahan, apalagi sampai membedakan siapa yang muslim dan siapa yang nonmuslim. Menurut pak Jose, semua itu hilang di depan para dokter. Yang kita lihat hanya kondisi fisiknya (luka) bukan latar belakangnya.

Lalu, bagaimana dengan ikhlash-nya? Di sinilah letak ujiannya. Ditengan peperangan ndan dentuman bom, para tim medis di tuntut menyelamatkan korban-korban terluka dengan profesional.. tanpa memilah dan mengotak-ngotakan mereka. KETIKA SESEORANG LILLAHITA’ALA, INSYA ALLAH AKAN BERTEMU PADA SATU TITIK BERNAMA IKHLASH!

Inilah saatnya prinsip ikhlash tertanam pada diri kita sebagai muslim. Paling tidak sebagai manusia. Kenapa? Karena inilah barometer kepedulian kita kepada sesama dan ikhlashlah yang mengatarka kita pada pluralitas kehidupan. -FatulNC-

Saturday, November 6, 2010

saya kan ga kenal Tuhan!

sebelumnya, tulisan ini pernah aku tulis di di note fecebook.. semoga bermanfaat
***

teringat perkataan seorang guru dikala menjelang Ujian Nasional. pak guru berkata, "apa yang kalian mau, Nak?" kami ddiam, menantinya melanjutkan kata-kata. "gak usah terlalu khawatir, NAk. kalian gak usak terlalu memforsir tenaga untuk belajar sampai lupa makan dan stress." beliau diam kembali dan melanjutkan dalam helaan nafas yang sama, "kalian tahu Tuhan? kenal? nah, kenali Tuhan. dekati Dia, peluk Dia. tapi ingat, jangan sekali-kali mengkhianatinya!"
**

perkataan beliau tiba-tiba terdengar kembali di telinga ketika aku melihat dialog seorang lelaki yang memohon pertolongan kepada ustadz.

"saya mohon, tolong saya, Tadz." lelaki muda memelas
"saya gak bisa bantu apa-apa, mas. minta tolong itu sama Tuhan." jawab ustadz
"kan saya gak kenal sama tuhan, Tadz. saya kenalnya sama ustadz." lelaki muda menjawab dengan lugu
"hehehe. ya kenalan dong, Mas!" lalu sang ustadz pergi meninggalkan lelaki muda sendirian.
**

adakah di antara kita yang tahu Tuhan? lalu apakah kalian mengenal-Nya?
banyak di antara kita bahkan demikian juga dengan si empunya note ini yang terlalu disibukkan oleh kehidupan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. sampai-sampai kita, sang hamba, tak punya waktu untuk menganal Sang Pencipta.

sadarkah bahwa Tuhan itu Maha Pengasih yang tidak pernah pilih kasih. Ia menyayangi hamba-Nya yang mengenal-Nya, maupun yang tidak. seorang hamba yang ingkar sekalipu masih bisa menghirup sejuknya wangi rumput yang berpadu dengan embun di pagi hari, masih bisa merasakan hangat di dindinnya malam, dan masih bisa merasakan nikmatnya menguap. iya kan?

tapi ketika kita sedang murung, sedih, atau merasa kurang puas atas apa yang diperoleh di kehidupan ini, kita mulai mengadu, mengeluh, dan bermanja-manja di hadapan Tuhan. berusaha menyapanya sebentar untuk meminta apa yang belum kita dapatkan. tapi ketika kita sudah mendapatkan segala pemberiaan-Nya, kita meninggalkan-Nya sampai kekurangan, kesedihan dan keluhan itu kembali datang.

inilah pengkhianatan pada Tuhan. kebiasaan seorang hamba yang belum mengenal-Nya.

tapi ada perbedaan antara yang mengenal-Nya dan yang tidak. ilusinya mudah saja. misalkan Anda adalah tuhan dan kerabat Anda adalah hamba Anda.

suatu hari Anda berjalan dan bertemu dengan dengan dua orang. yang satu adalah kerabat And dan yang lain adalah orang yang baru Anda kenal. lalu keduanya meminta pertolongan berupa pinjaman uang, sedangkan Anda hanya memiliki uang untuk dipinjamkan kepada salah satunya. manakah yang Anda utamakan?

lalu? maukah Anda diutamakan oleh Yang Pertama? -FatulNC-


Tuesday, August 24, 2010

‘mereka’ adalah apa yang kita pikirkan tentang ‘mereka’

Dalam novel Layla Majnun karya Nizami, dikisahkan bahwa Majnun menjadi raja hutan karena kecintaannya kepada kekasihnya, Layla. Semua hewan buas yang biasa memangsa manusia, tunduk dan jinak dihadapannya. Dengan syair-syair yang digubahnya, srigalapun menawarkan dirinya untuk menjadi bantalan tidur Majnun.

Ada sebuah kisah yang terselip dalam novel ini, mengenai kesetiaan hewan dan manusia. Tidakkah binatang adalah cerminan manusia? Ya, mereka adalah apa yang kita pikirkan tentang mereka.

Alkisah, terdapat seorang raja di kota Merv. Raja ini memiliki beberapa anjing penjaga. Mereka bukan anjing biasa, tetapi lebih menyerupai setan yang dirantai. Setiap anjing memiliki kekuatan seperti babi hutan, dan rahang mereka yang besar mampu memutuskan kepala unta dalam sekali kerkahan.

Mengapa raja memelihara makhluk-makhluk mengerikan seperti itu? Jawabannya, untuk merobek-robek dan memakan mangsanya. Lantas, siapakah yang menjadi mangsanya? Mereka adalah orang-orang yang tak mendukung raja dan yang membuatnya marah. Orang itu akan dilemparkan ke kerumunan anjing-anjing ini, dan menjadi santapan mereka.

Di kalangan penghuni istana, kebetulan ada seorang anak muda yang sangat cerdas dan lihai dalam segala seni dan tipu daya. Tentu saja ia tahu tentang anjing-anjing galak dan fungsinya yang menakutkan itu. Betapapun bahagia ia tampaknya dari luar, diam-diam ia gemetar. Bukankah raja adalah orang yang cepat marah dan berhati kejam? Bukankah besok atau lusa ia bisa membenci orang yang saat ini ia cintai? Kebenciannya bisa terjadi secara tiba-tiba. Kebaikan hati seorang penguasa tak bi sa diramalkan sebagaimana langit di musim semi. Anak muda itu merasa ngeri saat memikirkan ansib yang mungkin terjadi pada dirinya. Apa yang harus ia lakukan?

Ia mulai masuk ke sekitar kandang anjing dan berbincaang ramah dengan para penjaga kapan pun ada kesempatan. Ia pun memberi mereka hadiah-hadiah kecil sehingga perlahan-lahan mendapatkan kepercayaan dari mereka.

Langkah selanjutnya, ia memberikan hadiah kepada anjing raja berupa potongan-potongan daging, dan terkadang satu ekor kambing. Ia mulai bercanda dengan binatangbhuas ini dan berbicara pada mereka. Kini ia bias mengelus-ngelus dan menepuk-nepuk kepala mereka tanpa takut digigit ataupun dicakar. Itulah tujuan yang diinginkannya.

Hari naas yang ditakutkannya pun tiba, tanpa alas an apapun ang raja sangat marah pada anak muda itu. Dalam kergeramannya, ia memerintahkan untuk melemparkan pemuda malang itu ke kandang anjing. Titah sang raja pun dilakukan. Pemuda tak berdaya itu dilemparkan ke dalam kandang anjing dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat.

Lalu apa yang terjadi dengan pemuda tersebut? Anjing-anjing itu berkumpul disekitarnya sambil mengibas-ngibaskan ekornya, menjilati wajah dan tangannya dengan lembut untuk menunjukkan kasih sayang mereka. Mereka berbaris disekitarnya seperti pengawal, siap menjaganya dari musuh dan melindunginya dari marabahaya. Tak ada yang bisa membuat mereka menyakitinya.

Betapa terkejutnya para pengikut setia raja. Mereka yang tengah siap menyaksikkan tontonan sadis, tidak menyangka dengan apa sedang mereka lihat kali ini. Mereka justru menyaksikkan teladan kasih sayang antara manusia dan binatang.

Sementara itu, apa yang terjadi dengan raja? Ketika keremangan senja merangkak ke peristirahatannya, menutupi pakaian putihnya dengan warna emas senjakala, kemarahan sang raja mulai reda. Karena merasa bersalah dengan perintahnya yang gegabah, ia sangat menyesal dan bekata pada pegawainya, “Mengapa aku memerintahkan anjing-anjing ganas itu membantai kijang yang tak berdosa? Pergi dan lihatlah apa yang terjadi pada pemuda yang malang itu.”

Para pergawai melakukan apa yang dipoerintahkan, dan kembali denga membawa salah seorang penjaga yang diminta untuk memberikan laporan pada raja. Sang penjaga gemetar untuk menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Ia tahu bahwa anak muda itu telah mendapatkan kepercayaan anjing dan para penjaganya, dengan cara menunjukkan persahabatan dan memberikan hadiah. Ia berkata, “Paduka yang mulia. Pemuda itu bukanlah manusia biasa. Pastilah iamalaikat yang jatuh adari langit, perantara Yang Mahakuasa dalam melakukan sebuah mukjizat. Datang dan lihatlah sendiri, Paduka. Di sana ia duduk dikelilingi anjing-ajing yang kejam itu, dan mereka tidak memperlihatkan taringnya. Sebagaimana Paduka ketahui,anjing-anjing itu asalah serigala berwajah naga. Namun, oh Paduka, tak satu pun dari mereka yang mengganggu bahkan sehelai rambutnya pun tidak.”

Ketika raja mendengar cerita itu, ia melompat dari takhtanya, tergopoh-gopoh ke kandang secepat kakinya bias mengangkut tubuhnya, untuk menyelamatkan pemuda itu, jika mungkin tepat waktunya.

Raja melihat dengan mata kepalanya sendiri. Air mata mengaliri pipinya seperti sebuah semburan, dan ketika para penjaga telah melepaskan tali yang mengikat pemuda malang iu dan membawanya ke luar kandang. Dengan tersedu-sedu, sang raja memeluknya dan meminta maaf yang tak terkira banyaknya.

Sejenak kemudian, ketika ia duduk sendirian bersama pemuda yang terselamatkan itu, ia bertanya, “ Sekarang, ceritakan bagaiman kejadian sebenarnya? Bagaimana kau tetap tak terluka selama di sana?”

Pemuda itu pun tak kuasa untuk menyembunyikan kebenaran dari sang raja. Setelah menyampai seluruh ceritakan kepadanya, ia melanjutkan:

“Paduka tahu, anjing Paduka menjadi suka pada saya dan menyelamatkan jiwa saya karena beberapa potong daging. Dan Paduka? Paduka sangat tahu bahwa saya telah mengabdi pada Paduka denga setia sejak remaja. Namun, hanya karena sekali membuat Paduka jengkel, Paduka bermaksud membunuh saya. Lalu, siapa yang lebih baik, Paduka atau anjing Paduka? Siapa yang pantas mendapatkan kepercayaan dan penghormatan, Paduka atau anjing Paduka?”

Manusia mungkin bisa tidak berterima kasih, tapi tidak demikian dengan anjing-anjing itu. Ketika mereka mengenali sahabat mereka, mereka pun menemani sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Lantas, di manakah posisi kita terhadap sahabat, sebagai anjing atau sang raja? -FatulNC-


Monday, July 26, 2010

Raheel Zara

Seorang penulis Kanada akan menjadi wanita pertama yang menjadi imam Salat Jumat di Oxford. Suatu hal yang jelas-jelas sangat kontroversial dan akan memicu kemarahan umat Islam. Wanita itu bernama Raheel Raza. Siapa Raheel Zara?

Raheel Raza adalah seorang aktivis hak-hak perempuan dan penulis yang berbasis di Toronto, Kanada.

Dia diundang oleh Dr Taj Hargey, seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai imam sebuah interpretasi pemahaman ultra-liberal Islam yang meliputi, antara lain, bahwa laki-laki dan perempuan harus diizinkan untuk shalat bersama dan bahwa imam perempuan bisa memimpin shalat yang dilakukan bersama-sama.

Tiga dari empat sekolah utama Islam Sunni mengizinkan wanita untuk memimpin shalat berjamaah khusus untuk wanita, tetapi semua ahli hukum Islam menentang jika perempuanmemimpin shalat berjamaah di luar rumah dimana makmunnya terdapat laki-laki dan perempuan juga.

Raza, 60, adalah bagian dari sebuah kelompok kecil gerakan feminis Islam yang mencoba mendobrak pemahamanan sesat bahwa perempuan secara tradisional dikecualikan dari peran kepemimpinan dalam masjid. Mereka berpendapat bahwa tidak ada dalam Al Qur'an yang menyebutkan imam perempuan dilarang. Alih-alih mengandalkan para ulama hadis

Lima tahun lalu di Toronto, Raza menerima ancaman pembunuhan setelah memimpin sebuah shalat berjamaah yang makmunnya terdapat laki-laki juga.

"Ini adalah pengalaman yang sangat mendalam," kata Raza. "Ini bukan tentang mengambil alih pekerjaan imam, tapi mengingatkan kjepada kaum Muslim bahwa 50 persen dari penganutnya adalah perempuan. Wanita layak untuk didengar."

Kehadiran Raza di Oxford mengulangi sesi shalat berjamaah serupa pada tahun 2008 yang dipimpin oleh Amina Wadud.

sumber: eramuslim.com

Wednesday, July 21, 2010

Seperti apakah risau kita hari ini?


Hari itu, seseorang menjumpai Umar bin Abdul Aziz. Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian.

“Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati-hati. “Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.

Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, ”Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi?”

Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah subhanahu wataala. Ia pergi untuk selama-lamanya.

Umar bin Abdul Aziz, yang menangis dan terus menangis itu, hanyalah satu contoh dari kisah ’orang-orang risau’. Ya, orang-orang yang selalu punya waktu untuk merasa risau, gundah, dan khawatir.

Bahkan sebagian mereka mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk risau. Risau terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, atau terhadap beban dan tanggung jawab yang dipikulnya.

Paradigma orang yang menemui Umar, dalam kisah di atas, sangat berbeda dengan paradigma Umar, yang tetap saja menangis. Orang itu bertanya heran mengapa Umar masih menangis, karena dalam pandangan dirinya, Umar sudah sangat terkenal keshalihan dan kebajikannya. Umar telah banyak melakukan kebaikan, berlaku adil kepada rakyat. Dan bahkan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang makmur dan damai.

Tetapi Umar tetap menangis. Tangis kerisauan dari seseorang yang mengerti betul bagaimana ia mesti ber-etika di hadapan Tuhannya. Tangis Umar adalah ekspresi kerisauan. Kerisauan seorang penguasa yang memikul tanggung jawab berat. Tanggung jawab memimpin ribuan rakyat. Ia juga tangis seorang yang telah menapaki tangga-tangga hikmah. Yang keluasan ilmu dan amalnya semakin membuatnya merunduk dan merendah.

Kerisauan seorang Umar, adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup orang, sesungguhnya Ia bisa risau. Meski kerisauan setiap orang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan justru di sinilah inti permasalahannya. Ialah bahwa sejarah selalu mencatat, orang-orang besar sepanjang jaman, adalah orang-orang yang punya waktu untuk risau, mengerti mengapa harus risau, dan apa yang mereka risaukan. Sebagian bahkan meniti awal kebesarannya dari awal kerisauannya.

Sebab rasa risau adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lain-lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau.

Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika dan kompetisi, tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.

Dalam pengertian inilah, kita memahami peringatan Allah, bahwa seorang Mukmin, dan bahkan setiap manusia, tidak boleh merasa aman dari adzab Allah. Orang-orang yang merasa aman, tidak pernah merasa risau, tidak punya waktu untuk risau, dan bahkan tidak mengerti mengapa harus risau, adalah orang-orang yang rugi.

Simaklah firman Allah yang artinya, ”Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. " (QS. Al-A’raf: 97 - 99).

Ayat tersebut sedemikian jelas memaparkan, bahwa merasa aman dari adzab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sangat sederhana. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan ia juga tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi besok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia mendapat adzab. Bisa juga ia tidak melakukan kesalahan. Tetapi juga mendapat imbas adzab dari kesalahan yang dilakukan orang lain.



Hidup ini seperti hutan belantara yang sangat lebat. Manusia dan keseluruhan makhluk saling berlomba di dalamnya. Berpacu, beradu, berlomba, atau juga saling bekerjasama. Lebatnya belantara hidup membuat hidup begitu liat, keras, dan kadang harus saling mengalahkan. Dalam seluruh denyut kehidupan itu manusia terikat oleh serabut-serabut panjang dan saling berhimpitan. Ujung serabut itu terikat dengan makhluk-makhluk itu. Sedang pangkalnya ada dalam genggaman tangan-tangan Allah. Serabut-serabut itu adalah kekuasaan Allah, yang dari sana lahir takdir-takdir bagi keseluruhan hidup manusia.

Maka, rasa risau, dalam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber-sumber yang memberi rasa aman. Dan, sumber utama rasa aman itu adalah Allah. Yang Maha Kuat lagi Maha Melindungi. Karenanya, orang-orang seperti Umar sangat memahami betapa risau haginya adalah sebuah proses produktif seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ia risau dan karenanya ia menangis. Ia menangis dan karenanya ia berharap.

Kita, di sini, sekumpulan orang-orang yang tak akan sampai menyamai Umar bin Abdul Aziz, apalagi melampaui, semestinya menjadi orang-orang yang akhirnya mengerti darimana sebuah kebesaran dimulai. Bahkan, sebuah harapan, ternyata, mula-mula adalah segumpal risau.

Salah satu kebutuhan penting dalam hidup, adalah merisaukan diri. Ia semacam rumah-rumah kecil untuk persinggahan, bagi keseluruhan alur dan aliran semangat serta gelora hidup kita. Sebuah risau adalah tali penyeimbang antara menengok ke belakang dan berhati-hati menatap ke depan.

Maka seperti apakah risau kita hari ini?

Keistimewaan Sya'ban


Bulan Sya'ban adalah bulan kedelapan menurut kiraan takwim Hijriyyah yang padanya mempunyai 28 hari. Sya'ban berarti bercerai-berai. Dinamakan Sya'ban kerana di bulan ini masyarakat Arab ketika itu bertebaran ke berbagai tempat untuk mencari air disebabkan kemarau yang berpanjangan.


Bulan Sya'ban merupakan salah satu bulan yang mulia dan mempunyai beberapa kelebihan dan keistimewaan tertentu padanya. Padanya digalakkan untuk memperbanyakkan ibadah seperti di bulan Ramadhan, Rajab, Muharam dll. Di samping itu, bulan Sya'ban adalah bulan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Masyarakat Arab menggambarkan kemuliaan bulan Sya'ban ini dengan beberapa huruf dan artinya yang tersendiri. Di antaranya:

1. Kemuliaan derajat Rasulullah saw. di atas karunia bulan Sya'ban kepadanya sehingga dinamakan bulan ini adalah bulan Nabi saw.

2. Keperkasaan dan ketinggian.

3. Kebaikkan dan kebajikan yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari Allah swt.

4. Kasih sayang dan kemesraan.

5. Cahaya keimanan dan cahaya ibadah yang dikurniakan oleh Allah swt. kepada hamba-Nya yang bertaqwa.

di bulan Sya'ban terdapat pula berbagai peristiwa bersejarah dalam Islam, yakni:

1. Menurut Imam Nawawi, pada hari Nisfu Sya'ban (hari kelima belas di bulan ini) tahun kedua Hijriah, telah berlaku pertukaran kiblat umat Islam. Yaitu dari Masjid al-Aqsa ke Ka'bah di Masjid al-Haram.

2. Terjadi peperangan Bani Mustalik pada tahun kelima Hijrah. Kemenangan berpihak kepada Islam.

3. Terjadi peperangan Badar yang terakhir pada tahun keempat Hijrah.

Adapun amalan-amalan yang biasa dilakukan Rasulullah dan para sahabat di bulan Sya'ban adalah:

1. Memperbanyakkan Puasa Sunah

Aisyah r.a. berkata : Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat baginda memperbanyakkan berpuasa sebagaimana pada bulan Sya'ban.
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Aisyah r.a. juga pernah berkata: Nabi Muhammad saw. tidak banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya'ban dan baginda telah berpuasa sebulan penuh pada bulan Sya'ban. Dan baginda bersabda: Lakukanlah amalan yang mana kamu mampu membuatnya maka sesungguhnya Allah tidak membebankan (mewajibkan) kamu sehingga kamu merasa berat dengan bebanan. Dan apa yang disukai oleh Rasulullah saw. adalah sembahyang (sunah) yang sentiasa dilakukan meskipun sedikit. Dan baginda mendirikan sembahyang, maka baginda sentiasa istiqamah di dalam berbuat demikian.
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Sebuah hadits Nabi saw.: Rasulullah saw. telah berpuasa sebahagian besarnya dari bulan Sya'ban.
(Riwayat Nasaie)

2. Memperbanyak Berzikir dan Berdoa

Sabda Rasulullah saw.: Allah mencurahkan kebajikan pada empat malam yaitu malam Raya Haji, malam Raya Puasa, malam Nisfu Sya'ban dan malam Arafah.
(Riwayat al-Baihaqi).

Sabda Rasulullah saw. : Doa merupakan otak kepada ibadah.
(Riwayat al-Tirmizi).

Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw. mengingati Allah (berzikir kepada Allah) setiap waktu.
(Riwayat Muslim).

3. Sentiasa Bertaubat dan Beristighfar

Allah swt. berfirman: Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman supaya kamu berjaya. (Q.S. an-Nur Ayat 31).

Wednesday, September 30, 2009

berbagi sedikit ilmu

Postingan ini berhubungan dengan postingan saya yang sebelumnya *kalau belum baca posting sebelumnya (Kata mereka tentang Janji Allah), lebih baik baca terlebih dahulu, biar connect 

******************
Mungkin ada yang bertanya, kata siapa Allah memberikan RahmatNya hanya di 10 Ramadhan pertama? Ini bukan hanya Rahmat tapi keMahaRahmatan Allah yang ‘Maha’ akan tercurah seluruhnya diwaktu ini (10 Ramadhan pertama). Yakni babak penyisihan untuk hambaNya dalam berlomba-lomba meraih ‘hati Allah’.

Lantas, bagaimana dengan 10 Ramadhan berikutnya? Nah, untuk 10 Ramadhan kedua Allah melimpahkan MaghfirahNya di sini *ini momen yang tepat untuk taubatan nasuha.
Tahap ini saya sebut babak semi final.

Lalu untuk 10 Ramadhan terakhir adalah itqum minannar. Allah mengharamkan neraka kepada hambanya yang sudah masuk final dalam perlombaan ibadah Ramadhan *jurinya Allah loh!

Dan siapa pemenangnya, dapat dilihat setelah Ramadhan. Jawabannya, Siapa yang bertambah baik/meningkat iman dan amal ibadahnya?

Dan pertanyaan saya, bagaimana dengan iman dan ibadah Anda?

*sesungguhnya hanya Allah pemilik segala ilmu. Saya hanya satu dari sekian banyak umatnya yang berusaha untuk memiliki ilmu yang Ia punya.

Kata mereka tentang Janji Allah…

Sebenarnya tulisan sudah lama ada (sejak bulan Ramadhan 1430 H). Tapi saya baru sempat menyalinnya ke dalam bentuk file hari ini. Yah, seperti biasa alasannya. Waktu. Manusia bisa saja merencanakan. Tapi yang berhak menentukan? Hanya Allah swt.

*********************
Bismillah…
‘Allah itu Maha Penyayang’
Kata-kata itulah yang selalku aku pelajari sedari dulu. Sejak aku kecil.
‘Allah itu Maha Pemberi’
Itu juga yang aku dengar dari mulut mereka.
Dan kini, aku mendapatkan pelajan baru.

Mereka mengatakan bahwa Allah akan memberikan RahmatNya dibulan Ramadhan ini, terutama di 10 hari pertama.

Mereka bilang, “Allah pasti akan mengabulkan dan memberi apa yang diminta oleh hambaNya terutama di 10 hari pertama ini (Ramadhan). Ya. Walaupun panjang prosesnya.”

Untuk Allah:

Allah, aku dating untuk menagih janjiMu. Meminta pembuktian dari semua yang mereka katakana tentangMu. Bukankah Engkau Dzat Yang Memenuhi janji? Engkaulah yang tak pernah tidur untuk hamba-hambaMu.

Aku datang untuk menagih jajniMu. Allah, Tuhan yang mereka katakana Maha Pemurah Maha Penyayang. Aku datang meminta balasan dari do’a0do’a dan harapan dalam hidupku.

Dimanakah Engkau wahai Dzat yang tak pernah mati?
Aku berjanji, akan menunggu jawaban dari janjiMu ini.
Karena aku tahu. Kaulah yang Maha Menepati Janji.

29 Agustus 2009

*******************
Maaf, pernyataan di atas berdasarkan ilmu yang baru saya dapatkan dari guru les saya.

*wallahu’alam bishshawaf

Tuesday, September 22, 2009

marhaban ya Ramadha.. GoodBye my Ramadhan

cepat sekali kau pergi
berlalu..
dan aku tak merasakan hadirmu.

mengapa kau kini berbeda?
kau berubah,
tapi akau tak tahu karena apa.

kau kini sepi,,
sepi sekali

kau tak seindah dulu
tak semeriah dulu

mungkinkah kau telah pudar karenamenuanya zaman?

oh,, engkau.
aku rindu gemamu, keagunganmu
keistimewaanmu

aku tunggu kau
Ramadhan tercintaku

Thursday, July 9, 2009

Hari Jilbab Internasional untuk Mengenang Marwa Al-Sharbini

Meski pemerintah Jerman berusaha menutup-tutupi kematian Marwa Al-Sharbini, cerita tentang Marwa mulai menyebar dan mengguncang komunitas Muslim di berbagai negara. Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari Muslim di berbagai negara.

Usulan itu dilontarkan oleh Ketua Assembly for the Protection of Hijab, Abeer Pharaon lewat situs Islamonline. Abeer mengatakan, Marwa Al-Sharbini adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya. "Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijad Sedunia," kata Abeer.

Seruan Abeer disambut oleh sejumlah pemuka Muslim dunia antara lain Rawa Al-Abed dari Federation of Islamic Organizations di Eropa. "Kami mendukung usulan ini. Kami juga menyerukan agar digelar lebih banyak lagi kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak muslimah di Eropa, termasuk hak mengenakan jilbab," kata Al-Abed.

Selama ini, masyarakat Muslim di negara-negara non-Muslim memperingati Hari Solidaritas Jilbab Internasional setiap pekan pertama bulan September. Hari peringatan itu dipelopori oleh Assembly for the Protection of Hijab sejak tahun 2004, sebagai bentuk protes atas larangan berjilbab yang diberlakukan negara Prancis.

Seperti diberitakan sebelumnya di Eramuslim, Marwa Al-Sharbini, 32, meninggal dunia karena ditusuk oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia pada Rabu (1/7) di ruang sidang gedung pengadilan kota Dresden, Jerman. Saat itu, Marwa akan memberikan kesaksian dalam kasus penghinaan yang dialaminya hanya karena ia mengenakan jilbab.Belum sempat memberikan kesaksiannya, pemuda Jerman itu menyerang Marwa dan menusuk ibu satu orang anak itu sebanyak 18 kali. Suami Marwa berusaha melindungi isterinya yang sedang hamil tiga bulan itu, tapi ia juga mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit.

Kasus Marwa Al-Sharbini menjadi bukti bahwa Islamofobia masih sangat kuat di Barat dan sudah banyak Muslim yang menjadi korban. "Apa yang terjadi pada Marwa sangat berbahaya. Kami sudah sejak lama mengkhawatirkan bahwa suatu saat akan ada seorang muslimah yang dibunuh karena mengenakan jilbab," kata Sami Dabbah, jubir Coalition Against Islamophobia.

Dabbah mengatakan, organisasinya berulang kali mengingatkan agar para muslimah waspada akan makin menguatnya sikap anti jilbab di kalangan masyarakat Barat.

Profesor bidang teologi dan filosifi dari Universitas Al-Azhar, Amina Nusser juga memberikan dukungannya atas usulan Hari Jilbab Internasional yang bisa dijadikan momentum untuk merespon sikap anti-jilbab di Barat. "Hari peringatan itu akan menjadi kesempatan bagi kita untuk mengingatkan Barat agar bersikap adil terhadap para muslimah dan kesempatan untuk menunjukkan pada Barat bahwa Islam menghormati keberagaman," tukas Nusser.

Nusser menegaskan bahwa hak seorang muslimah untuk berbusana sesuai ajaran agamanya, tidak berbeda dengan hak penganut agama lainnya. Ia mengingatkan, bahwa kaum perempuan penganut Kristen Ortodoks juga mengenakan kerudung sebelum masuk ke gereja.

Dukungan untuk menggelar Hari Jilbab Internasional juga datang dari Muslim Association of Denmark. Ketuanya, Mohammed Al-Bazzawi. "Hari Jilbab untuk mengingatkan masyarakat Barat bahwa hak muslimah untuk mengenakan jilbab sama setara dengan hak perempuan non-Muslim yang bisa mengenakan busana apa saja. Mereka di Barat yang bicara soal hak perempuan, selayaknya menyadari bahwa mereka juga tidak bisa mengabaikan hak seorang perempuan untuk mengenakan jilbab," tandas Al-Bazzawi.

Bagaimana dengan Muslim Indonesia, apakah akan memberikan dukungan juga?(ln/iol)

sumber: http://eramuslim.com/berita/dunia/diusulkan-hari-jilbab-internasional-untuk-mengenang-marwa-al-sharbini.htm

Wednesday, April 22, 2009

yang ragu berjilbab

mungkin banyak yang ragu untuk menggunakan jilbab. So,, supaya gak ragu-ragu lagi. tuk, kita ketahui dulu manfaat dan mukjizat di balik balutan jilbab.

1.selamat dari azab Allah
2. ibadah yang mudah, tanpa lelah dan lebih dicintai Allah
3. mengundang turunnya pertolongan Allah
4. tanda wanita terhormat
5. terhindar dari pelecehan
6. menjauhkan diri dari perbuatan nista
7. bersahabat dengan wanita solehah
8. mengundang jodoh yang soleh
9. jilbab menunjukkkan harga diri pemakainya
10. terhindar dari tindakan kriminal
11. termasuk tolong menolong dalam kebaikan
12. membuat geram musuh-musuh Allah
13. Memelihara rasa malu
14. memneri teladan yang baik kpd sesama
15. melatih diri untuk sabar dalam ketaatan
16. meniru wanita-wanita solehah
17. menjaga masyarakat dari degradasi moral
18. syiar kaum muslimin
19. jilbab adalah sarana dakwah
20. menghemat pengeluaran
21. menghemat waktu
22. menjaga kebersihan hati
23. memelihara kecemburuan laki-laki
24. aman dari bahaya hasat dan mata yang jahat
25. dengan jilbab akan seperti bidadari surga
26. jilbab mencegah tabarruj
27. terhindar dari debu dan sengatan matahari
28. jilbab adalah pakaian serba guna
29. jilbab membuat anda awet muda
30. mengurangi kesenjangan sosial


naaah udah pada tahukan, manfaat dari jilbab. sebenarnya masih banyak lagi manfaat yang lainnya, tapi gak muat,, saking banyaknya..

udah gak ragu kan?
atau masih ragu?
wah,, wah, wah itu kelewatan...
kalau gitu, temui aku langsung aja yah,, untuk konsultasi..
Hheehe

Sunday, April 19, 2009

kapan kamu masuk islam?

saya masuk islam sejak saya lahir!!!

lalu, yang saya tahu. seseorang masuk islam kalau ia telah mengucapkan 2 kalimat syahadat. kapan sih kamu mengucapkannya???

yaah. itulah hal yang pernah ditanyakan oleh kakak di NF. huhf, sempat bingung sih. maklum, ilmuku masih cetek. tapi, ternyata jawaban yang sebenarnya mudah loh. yakni sejak 'kita semua' masih di alam ruh.

jadi begini. sebelum ke alam rahim ibu, seluruh manusia telah berada di alam ruh. yakni alam di mana jasad kita belum diciptakan. nah jadi skenarionya gini nih:

Allah SWT menanyakan kepada seluruh ruh-ruh manusia apakah kita sebagai ciptaanNya beriman padaNya. naah, seluruh ruh mengucapkan dengan serentak "YAAAAA, kami beriman padaMu"

tapi, Allah tidak percaya begitu saja. karena, seperti halnya orang yang baru kita kenal, apakah kita lansung percaya pada orang itu? nggak kan? begitu juga Allah. Dia gak percaya tuh, karena Dia tahu bahwa manusia memiliki sifat pembohong.

nah, jadi "kita semua" sudah bersaksi deh kepada Allah bahwa kita beriman kepadaNya. dan pada dasarnya seluruh ciptaanNya adalah Islam. lalu, yang kafir bagaimana??? itu dia,, adanya orang kafir karena mereka dilahirkan oleh keluarga kafir.

maka beruntunglah kita yang terlahir dalam keadaan Islam. dan semoga Islam tetap menjadi status kita sampai ke alam barza. Amiin...

Monday, March 16, 2009

Hujan


Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. "Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?" tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.

"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"
**

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, insya Allah, akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan. -FatulNC-

Monday, January 5, 2009

HAPPY NEW YEAR !!!

1429 H telah berlalu, tapi semaraknya tetap saja kalah meriah dengan pergantian tahun ke 2009 M. Sangat mengenaskan. Ternyata masih banyak saudaraku yang belum mengenal islam. T_T
Fenomena pergantian kedua tahun ini benar-benar berbeda. Ini sangat jelas terlihat karena kebetulan tahun ini (2008:red) pergantian tahun Hijriah dan Masehi berdekatan. Yang lebih memprihatinkan lagi yaitu saat selama perjalananku menuju Monas lalu pulang lagi ke rumah dan berangkan ke kebayoran lalu pulang lagi ke rumah, sekian banyak spanduk yang mengucapkan ‘selamat natal & tahun baru 2009’, hanya ada dua spanduk yang mengucapkan ‘selamat tahun baru Hijriah’. Itupun dari bapak presiden kita (terima kasih bapak Presiden ^_^)
Hmm,, dengan berdekatannya waktu pergantian tahun masehi dan hijriah ini, aku makin tahu bahwa dunia makin luput dengan kelupaan. Ternyata mereka lupa dengan islam dan Rasulullah yang telah memperjuangkannya,dan pasti mereka telah melupakan Allah. Duuh, cedihnaa T_T nagis lagi deh. Na’udzubillah himindzalik.
Saat tahun baru hijriah, hanya ada 3 orang teman yang mengucapkan selamat tahun baru kepadaku, sedangkan saat tahun baru masehi ada 4 orang berbeda yang mengucapkannya. Yah, meski hanya berselisih satu suara, tetap saja menyedihkan. Memang sih, bukan ucapan ‘selamat tahun baru’ yang aku mau. Tapi dengan mengucapkannya itu sudah melambangkan bahwa ‘kita’ telah menghargai dan mengingat agama kita sendiri.
T_T hikhik. Kasihan agamaku, ooh islamku sayang islamku malang.
Jika kita lihat penyambutan tahun baru masehi, huhf, itu benar-benar sangat berbeda benar dengan penyambutan tahun baru hijriah. Semangat sorak gempita terdengar menggema seantero kota, tipuan terompet saling bersahut-sahutan di sepanjang jalan, dan pesta bakar ayam pasti tak mau kalah untuk dilakukan ‘keluarga-keluarga malang’ di atas jam 00.00.
Sebenarnya, tahun baru masehi itu punya siapa sih?? ‘ _’ (muka bingung) Bukankah tahun baru masehi itu milik orang-orang nasrani??
Jadi begini, tahun baru masehi itu pada mulanya dirayakan oleh Julius Caesar pada abad ke-45 SM. Konon ini dilakukan sang kaisar untuk menghormati Dewa Janus (dewa yang digambarkan bermuka dua yang merupakan dewa pintu dan semua permulaan). Seiring dengan berkembangnya agama nasrani acara ini diwajibkan satu paket dengan natal
Naah,, gitu. Jadi perayaan tahun baru masehi itu murni milik para nasrani. So,, do you want to be one of them? Kalau nggak, yuk kita tinggalkan tradisi itu. Kita ganti semua itu dengan mengingat tahun baru hijriah dengan cara membaca do’a akhir dan awal tahun hijriah, memulainya dengan instrospeksi diri dan dzikir sebanyak-banyaknya, berdo’a agar di tahun selanjutnya kita bisa lebih baik dan makin disayang olehNya. Eits, jangan lupa juga berdo’a untuk saudara-saudara kita yang ada di bumi Palestin itu ya.. semoga mereka dapat merdeka dan dapat mengambil hak mereka kembali seutuhnya. Amiin
So,, yuk kita kenali islam lebih dalam, sayangi dia, Dia, dan ‘dia’. And let’s say HAPPY NEW YEAR HIJRIAH friends !!!!

HEARD 'THEIR' CRY AND SAVE 'THEM': OUR PALESTIN

Saat kaki ini masih letih setelah 2 ½ jam berputar-putar di mall karena membeli kado untuk guru tercinta. Aku melihat berita yang sangat memilukan untuk agamaku tercinta ‘Islam barakallah’. “100 ANAK MENJADI KORBAN LEDAKAN BOM ISRAEL”. Itulah kalimat yang terpampang tebal di layar televisi yang ada di hadapanku. Masya Allah, laailahaillallah, innalillaahi wa innailaihi raaji’un... kata itulah yang keluar dari mulutku saat aku melihat seorang balita berbalut bendera Palestin yang sedang dipangku oleh lelaki paruh baya.
Allah, sampai kapan saudara-saudaraku harus merasakan semua ini? Masih terniang dalam ingatan saat guru agamaku menjelaskan perjalan Rasulullah di malam hari. Isra’ Mi’raj, itulah namanya.kisah perjalanan Rasulullah yang mendapat perintah shalat bagi ummat muslim. Perjalanan yang mengagumkan. Perjalan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha lalu ke Baitul Maqdis dan Sidratul Muntaha. Masih tersimpan dalam ingatanku, bagaimana diriku yang kecil mengimajinasikan perjalanan Rasulullah yang hanya dalam semalam.
Tapi kini. Apa yang ada pada pemandangan di depanku? Masjidil Aqsha yang dikepung, ummat islam yang shalat di halaman Masjidil Aqsha, dan tatapan sinis para yahudi yang berdiri dihadapan para saudaraku yang sedang menghadap padaMu. Allah,, aku tak tega melihat. Sungguh. Air mata ini tak akan cukup untuk meluapkan kepedihan ini. Aku merasa ada belati yang menikamku saat tempat suci yang pernah didatangimu kini porak-poranda, Rasul.
Sedih rasanya saat aku membandingkan imajinasi kecilku dengan pemandangan yang ada di hadapanku ini. Tak terasa ada sebutir cairan mengalir dai ujung mataku. Mengapa semua begini? Rasulullah, beginikah nasib Islam sepeninggalanmu. Di mana semangat para sahabatmu yang berjuang demi agama ini? Di mana ketangguhan Khulafaur Rasyidin yang ada di zamanmu? Di mana spirit ashabul kahfi?, spirit para pemuda yang mempertahankan iman pada agama yang kau bawa.
Allah... kapan ini berakhir?
Aku yakin, ada rahasia dahsyat yang Kau sembunyikan di balik peristiwa ini. Ada kemenangan besar di balik semua ini.
Aku yang hanya seorang wanita, tak mampu berbuat apa-apa. Tak mampu turun ke medan jihad dan menyelamatkan saudaraku dari gencatan bom. Tapi semua itu tak mustahil untukku lakukan. Allah,, jika engkau berkehendak, aku ingin memeluk ukhti di seberang sana. Aku ingin memberinya perlindungan, memberinya selimut agar tak kedinginan, dan memberinya ayat-ayat ketegaran yang Kau turunkan agar mereka tetap kuat dan tegar. Ingin sekali aku menggendong dan memberi dekapan hangat pada anak-anak tak berdosa yang ada di sana.
Wallahi.. aku tak rela agamaku dilecehkan seperti itu. Aku tak sudi saudaraku tersiksa terus-menerus. Dan demi nafas yang aku hirup sepanjang hidupku, aku ingin mereka merdeka.
Tak sadar, ketika itu pula aku bergumam bahwa aku akan menonjok para yahudi laknatullah itu dan ... sangat sangat tidak sudi saudaraku diperlakukan seperti itu. Ya Allah,, azza wajallah. Berilah mereka petunjukMu, sadarkan mereka dengan kuasa yang kau miliki. Huhf. Tapi apa gunanya aku berdo’a seperti itu? Bukankah Allah telah mengatakannya sendiri bahwa orang-orang yahudi itu akan terus tertutup pintu hatinya dari petunjuk Allah, dan Allah pun mengatakan bahwa hati mereka terkunci dari segala hal yang berprikemanusaan. Itu semua karena mereka mau melakukan hal apa saja demi menguasai dunia. Maka tak heran jika kejeniusan yang mereka miliki digunakan hanya untuk menghancurkan golongan yang bertentangan dengannya yaitu Islam. Yup! Di mata yahudi, Islam adalah musuh yang sangat berbahaya bagi kekuasaannya, bahkan di anggap lebih berbahaya dari pada komunis sekalipun.
Tapi, apakah aku harus mendo’akan para yahudi itu untuk diazab dan mendapat pembalasan yang setimpal oleh Allah? Bukankah Allah akan memberikan nikmat dan kesenangan yang panjang bagi orang-orang kafir agar dosa-dosa mereka bertambah banyak? Wallahu ‘alam bishshawaf. Yang menjadi permasalahan disini bukan bagaimana cara kita mendo’akan akan kesadaran orang-orang yahudi itu. Tapi yang terpenting bagaimana caranya agar saudara kita yang ada di sana dapat segera merdeka dan bertakbir gembira sekeras-kerasnya.
Hmm. Kalau mengingat jihad, aku jadi teringat kata-kata kakak mentorku. “katakan Allahu Akbar sekencang-kencangnya sambil menghantamkan tonjokan ke arah depan, dan anggap di depan kita ada seorang yahudi yang sedang “menyengir kuda”. Maka insya Allah rasa hantaman tangan kita akan sampai kewajah mereka.
Wallahu’alam.
Ayo,, dzikir bersama, ucapkan takbir, dan ribuan shalawat pada nabi kita untuk saudara-saudara tercinta. Semoga Allah memberikan kemenangan bagi muslim dunia. Dan biarkan kekuasaan dan tangan Allah yang akan ikut berperang melawan yahudi laknatullah. Lantunkan do’a untuk kekuatan dan kejayaan Islam di sana!! Subhanallah, ALLAHU AKBAR !!!
SAY,
ALLAHU AKBAR !! ALLAHU AKBAR !! FATH ILA PALESTIN AHAD
JUST FOR JUSTICE PALESTIN BELOVED.

Ketika Kesetiaan Dipertanyakan

Kesetiaan. Siapa yang tidak tahu tentang itu? Yap. Kesetiaan adalah sesuatu yang paling berharga di dunia, dari jaman Nabiyallah hingga jaman kekafiran seperti ini. Kesetiaan sangat diperlukan dalam islam, hal ini karena Allah sangat mencintai mahkluk-mahklukNya dengan setia, maka kita sebagai satu dari mahklukNya yang tak terhitung jumlahnya juga sepatutnya harus setia pada kesetiaan Allah.


Lantas bagaimana jika kita setia lagi dengan cinta Allah dan RasulNya? Semua itu telah dijawab langsung oleh Allah ketika ‘penghianat besar’ kesetiaan Allah hadir dalam kisah salah satu Nabi kita. Dialah Yudas Iskariot. Kita pun sudah tahu dampak yang ia dapatkan atas ketidaksetiaannya itu. ‘penghianat’ itu kini menjadi sesembahan para Nasrani yang menganggapnya sebagai Nabi Isa as. Subhanallah.. hingga segitu besar rupanya pemalasan Allah terhadap mahikluk yang mengkhianati kesetiaanNya yang telah dipercayakan kepada kita.


Hmm.. kalau kesetiaan manusia diberi manusia gimana?


*_* friend,, yang namanya kesetiaan itu kekal pengertian dan tindakannya kepada siapa pun, Sangkhalik-kah, sampai pada sesuatu yang lebih kecil pun seperti kesetiaan pada manusia, teman dan pacar sekali pun. Ehem, kesetian yang kecil seperti itu saja masih banyak yang mengkhianati, apalagi kepada Allah. Sulit memeng menjaga kesetiaan yang telah dipercayakan orang (terutama yang dicintai) kepada kita. Tapi mengapa kita berusaha untuknya? Bukankah sesuatu yang dipetahankan akan terasa makin kuat melekat pada diri hati kita?


Itulah yang membuat saya menulis tentang ‘kesetian’ ini. Ternyata masih bayak orang di sekitarku yang mudah berkhianat hanya karena hal yang sepele. Bahkan orang itu adalah orang yang dapat dikatakan dekat denganku.


Saat hati ini kesepian dan tak tahan menahan rasa untuk diluapkan pada orang yang kita cintai, haruskah kita menghianatinya? Apakah itu jalan satu-satunya untuk meluapkan rasa cinta yang ada demi kebutuhan diri sendiri. Hem, egois rasanya.


Saat seorang yang mencintai diri ini sangat dan sangat mencintai, kenapa harus ada pengkhianatan atas rasa cinta yang telah diberi? Na’udzubillah.


Bagi aku, kesetiaan itu mahal harganya, karena itu jika kita telah diberi kepercayaan untuk setia mengapa kita tak menjaganya baik-baik. Memang sih kesetiaan itu tak nampak wujudnya, tapi dampaknya terlihat jelas oleh mata, rasanya sangat dalam dan sulit dipukan ketika kita benar-benar menjaga kesetiaan.
Oke.. kalau kita meremehkan kesetian dan berkata, iya sih,, pacarku orang yang setia begitu juga aku, tapi kalau ditinggal pacar nan jauh di sana untuk satu urusan,, yah....?


Yah apa? Yah boleh aja gak setia? Begitu maksudnya? Alah, bilang aja emang ... (tuuuut,, masuk lembaga sensor nih)


Gini aja deh, sekarang kita ibaratkan kesetiaan itu sebuah benda yang kita sayangi. Misalnya, buku (buat si maniak buku), coklat (buat orang yang demen coklat), atau berlian berharga (untuk para pengila perhiasan, wiih). Kalau kita anggap kesetiaan itu buku, selayaknya maniak buku, pasti buku itu akan dirawat baik-baik. Mulai dari segi kebersihan bukunya, sampul bukunya, dan akan menjaga bukunya baik-baik di lemari berharga yang mungkin aja itu lemari baja dan emas sekalipun. Dan kalau kamu maniak buku pasti kamu gak akan membiarkan buku kamu lecek kan?


Naah, begitu juga dengan kesetiaan. Coba deh kita rawat kesetiaan itu dengan menaruhnya dalam-dalam di dasar hati kita, dan selalu mencurahkan tanda-tanda keberadaan kesetiaan itu hanya pada yang mempercayakannya. Itulah kuncinya.


Lalu, coba deh berfikir sedikit lebih dewasa (sedikiiit aja, gak usah banyak-banyak kok). Berfikir dampak dari semua pengkhianatan kita, mulai dari dampak yang paling kecil sampai dampak yang paling besar. Yaah,, kalau berkhianat pada sesama manusia sih gak bakal kayak Yudas. Tapi paling nggak Allah sudah menyiapkan berbagai balasan bagi yang coba-coba berkhianat, apalagi sama Dirinya sendiri, pake ada plus-plusnya loooh, ^_^


Yuk sekarang kita mulai menjaga kesetiaan yang Allah beri, juga kesetiaan yang telah diamanahkan oleh orang-orang yang mencintai dan dicintai kita. Dalam islam kan juga ada ada hukum karma (emang buddha doang, weeek). Jadi, kalau gak mau dikhianati jangan coba-coba mengkhianati yaaa.


Kesetiaan kok coba-coba !!! (intonasinya kayak iklan minyak kayu putih)