saat masa remaja menghampiri, dan kita tak dapat mengelaknya. maka di saat itulah muncul masalah-masalah yang bisa dianggap hal yang lumrah untuk proses pubertas (penemuan jati diri). dari sinilah muncul berbagai macam konfilk sosial maupun batin yang di alami seorang remaja, demikian juga saya.
di usia memasuki 17 tahun (usia yang dikatan sebagai gerbang seseorang untuk dapat hidup bebas sesuai kehendaknya, tapi tidak bagi saya) saya mulai merasakan begitu banyaknya konflik yang saya alami dan sudah lama saya lupakan demi menghindari konflik itu sendiri. dari sekian banyak masalah yang saya alami, serangan 'virus merah jambu'-lah yang paling membuat saya kebingungaun.
sebagai seorang remaja muslim yang terdidik di Madrasah, saya sudah menerima berbagai 'wejangan' mengenai cara menata hati dan menempatkan cinta. memang, untuk dijadikan materi mentor atau liqa sangatlah mudah, tapi untuk direalisasikan, sulit!!
menurut kakak mentor saya, cinta itu biasanya tumbuh dari rasa kagum, ngefans dan banyak lagi. dan berlanjut dengan rasa ingin ada 'dia' dan sampai pada tahap jatuh cinta.
saat 'rasa' ini datang, saya tidak tahu dari mana asal usulnya. tapi yang saya rasakan selalu begetar bila bertemu dengan orang dicintai. sebagai remaja yang baru datang ke dunia cinta, saya hanya bisa menagis dan menangis. kenapa menangis?
saya menangis karena takut, resah, malu dan ingin 'dia' tahu bahwa cinta telah melandaku.
aku takut, takut rasa ini hanyalah umpan setan untuk menuju kemaksiatan. aku resah, karena selalu saja dada ini berdebar karena 'getaran-getaran istimewa'. aku malu, karena aku seorang muslimah yang berjilbab, mengikuti majlis ta'lim, dan mentoring tapi aku 'bigini' salahkah sikapku begini? aku malu pada Allah yang menciptakan cinta, aku malu jika ada yang tahu siapakah 'dia'? selain aku dan Allah. aku ... aku ingin 'dia' tahu bahwa aku telah 'sakit' berbulan-bulan lamanya.
sebagai seorang muslimah, salahkah aku ketika aku mencintai hambaNya?
layakkah perasaan ini ada pada seorang muslimah sepertiku?
siapapun kamu, tolong bantu aku, jawab pertanyaanku.
Tuesday, May 12, 2009
Monday, May 11, 2009
cinta yang bagaimana?

minggu lalu, di tempat lesku, aku mendapatkan pelajaran BIP, yah semacam BK kalau di sekolah. sekarang, waktunya materi "CINTA"
sepulang dari tempat les, ada satu pertanyaan besar dalam hatiku.
pertanyaan besar, yang membuat aku makin cinta.
saat itu, ada satu pertanyaan dalam hatiku yang ingin segera terjawab.
'yang ada dalam hati ini, iman atau syahwat?'
ya, itulah pertanyaan besarku, saat mendengarkan penjelasan tentang cinta, itulah respon pertama yamg ada di dalam hatiku.
menurut penjelasan kakak yang memiliki nama BAsit itu, dalam islam terdapat 2 cinta. yaitu cinta syahwati(yang hanya ingin memiliki dan menguasai) dan cinta imani (cinta yang berdasarkan keimanan kepada Allah)
selama mendengarkan pemaparan itu. hati dan pikiranku terus berputar, menelaah dan mencari celah untuk mendapatkan jawabannya.
hingga kini aku berpikir, cinta syahwatikah ini?
tidak, aku tidak ingin memiliki cinta seperti ini. dan setiap lantunan do'a, aku sellau mengucap
"Allah yang Maha Pencinta, jadikanlah hamba yang halal baginya"
ya.. itulah. aku tidak ingin memilikinya. cukup jadi yang halal baginya, dimilikinya dan dicintainya.
lantas, apakah aku akan mencampakkannya?
dengan tegas aku menjawab. TIDAK!
akan aku curahkan cinta, kasih sayang dan diriku ini untuk dia. dan semata-mata hanya karena Allah dan RasulNya. dan tetap menjaga cinta.
lalu, apakah ini cinta imani?
Insya Allah...
ya, itulah yang aku harapkan.
dapat mencintai dan dicintai-Nya, dia dan dia...
love you Allah, you and you.
muslimah bercadar

saat ini, mungkin akulah satu-satunya wanita berjilbab panjang dari angkatanku di sekolah. meskipun masih banyak lagi kakak-kakak kelasku yang berjilbab panjang.
meski begitu, aku tak harus mengisolasi diri dari orang-orang yang ber'jibsi' atupun yang tidak berjilbab. sampai saat ini aku memiliki dua sahabat berjilbab yang bernama Dea dan NUrul (meski tidak panjang, dan jilbab mereka tidak sexy') dan dua orang sahabat lainnya yang tidak berjilbab, mereka bernama Devi dan Putri.
pernah suatu hari, saat aku baru pulang dari rumah Devi. aku melihat seorang muslimah yang bercadar. padanya aku bertanya, "dari dulu ya, dia pakai cadar?". "ah, ngga kok. dulu dia berjilbab biasa aja, cuma habis nikah dia langsung pakai cadar" jawabnya lancar. "ooh.." hanya 'ooh' jawabanku. "eh lis, jangan-jangan lo bakal kaya dia lagi kalau udah nikah", begitulah celoteh temanku itu.
pakai cadar??
memang sering ditanyakan orang-orang kepadaku. terlebih saat film Ayat-ayat Cinta membludak.
yah, aku juga sempat mendengar kalau kakak kelasku yang dulu berjilbab panjang dan kini menikah telah memakai cvadar. menurutku, mungkin bagi mereka yang telah menikah cadar adalah pertanda bahwa wajahnya adalah milik suaminya dan hanya bisa dinikmati oleh suaminya. bagus memang, tapi, apakah aku harus seperti itu juga. wallahu'alam. aku tidak ingin berkata tidak, apalagi iya.
tapi setahuku, cadar hanyalah tradisi bangsa arab. dan bukanlah murni ajaran islam. jadi, biarlah aku mencoba menjaga kemurnian islamku. meski diri ini nantinya akan jadi milik suamiku juga.
so,, apakah aku akan pakai cadar?
who's know?
wallahu'alam bishshawab
Subscribe to:
Posts (Atom)