Sunday, August 8, 2010

Efek Psikologi Warna Hijau

dalam dunia psikologi, warna memiliki peran penting dalam memengaruhi kejiwaan seseorang yang melihatnya. dalam artikel kali ini, saya kan membahas tentang efek psikologi warna hijau. tidak hanya pengaruh warna hijau terhadap psikis seseorang, namun juga dampak warna hijau terhadap kondisi fisik.



warna hijau dalam al-Qur'an disebutkan berulang kali dalam sembilan ayat; al-An'am 99, Yusuf 43, Yusuf 46, al-Kahfi 31, al-Hajj 63, Yaasiin 80, ar-rahman 64, ar-Rahman 76, dan al-Insan 21. dalam ayat-ayat tersebut, warna hijau lebih sering dikaitkan dengan kemakmuran bumi dan keberadaan surga atau iklim keceriaan, kesenangan, kebahagiaan, dan ketenangan jiwa makhluk yang dikelilingi warna hijau.

dalam surat ar-Rahman, Allah berfirman:

"Maka bertelekan padabnatal-bnatal yang hijau dan permadani yang indah" (Qs. ar-Rahaman: 76)

sedangkan dalam surat al-Insan, kita temukan firman Allah:

"Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal yang dipakaikan kepada mereka gelang (yang) terbuat dari perak dan Tuhan memberikan kepada mereka yang bersih." (Qs. al-Insan:21)

Ardithcham, seorang ahli psikologi dunia ditahun 2008, didukung oleh ilmuan Suriah, Dr. Abdul Hamid Diyab dan Dr. Ahmad Qurquz mengatakan bahwa warna mamiliki pengaruh besar dalam diri manusia. sejumlah riset dan eksperimen pun turut dilakukan untuk membuktikan bahwa warna dapat mempengaruhi maju mu8ndurnya seseorang dalam melangkah, membuatnya merasakan panas atau dingin, senang atau sedih, bahkan bisa mempengaruhi kepribadian laki-laki dan pandangannya terhadap kehidupan.

mengingat pengaruh warna yang begitu dalam pada jiwa manusia, maka sejumlah rumah sakit besar di dunia pun mengundang para pakar untuk memberikan usulan warna dinding dan seragam dokter yang bisa menunjang kesembuhan para pasien.

sejumlah eksperimen menyatakan bahwa warna kuning dapat membangkitkan vitalitas sistem syaraf dan dapat meningkatkan kecerdasan anak. warna ungu yang dikenal sebagai lambang fantasi dan imajinasi diakui dapat memberi stabilitas sistem metabolisme tubuh. sedangkan warna biru yang cerah dan terkesan sejuk membuat manusia merasa adem, berbeda dengan warna merah yang membuat orang-orang disekitarnya merasa panas. lalu bagaimana dengan hijau? inilah jawaban dari banyak pertanyaan mengapa pakaian operasi dan seragam para dokter ahli bedah berwarna hijau. para ahli menyimpulkan bahwa warna hijau dapat membangkitkan keceriaan, kegembiraan, dan kecintaan pada kehidupan.

menutup artikel kali ini, ada satu peristiwa unik yang berkaitan dengan warna. yakni, di kota London, ada sebuah jembatan bernama "Black Freire" yang terkenal dengan sebutan "jembatan bunuh diri". julukan ini diberikan karena banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan di atas jembatan tersebut. untuk mengubah citra buruk ini, pemerintah setempat mengganti warna jembatan yang semula berwarna cokelat tua menjadi hijau terang. ternyata setelah penggantian warna ini, angka bunuh diri di jembatan tersebut menurun drastis.

keunikan-keunikan dampak warna hijau di atas disebabkan medan mata untuk memandang warna hijau lebih kecil daripada medan pandang warna-warna lainnya. panjang gelombang warna hijau juga sedang. tidak sepanjang warna merah dan tidak sependek warna biru.--FatulNC--
*semoga bermanfaat

Monday, July 26, 2010

Raheel Zara

Seorang penulis Kanada akan menjadi wanita pertama yang menjadi imam Salat Jumat di Oxford. Suatu hal yang jelas-jelas sangat kontroversial dan akan memicu kemarahan umat Islam. Wanita itu bernama Raheel Raza. Siapa Raheel Zara?

Raheel Raza adalah seorang aktivis hak-hak perempuan dan penulis yang berbasis di Toronto, Kanada.

Dia diundang oleh Dr Taj Hargey, seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai imam sebuah interpretasi pemahaman ultra-liberal Islam yang meliputi, antara lain, bahwa laki-laki dan perempuan harus diizinkan untuk shalat bersama dan bahwa imam perempuan bisa memimpin shalat yang dilakukan bersama-sama.

Tiga dari empat sekolah utama Islam Sunni mengizinkan wanita untuk memimpin shalat berjamaah khusus untuk wanita, tetapi semua ahli hukum Islam menentang jika perempuanmemimpin shalat berjamaah di luar rumah dimana makmunnya terdapat laki-laki dan perempuan juga.

Raza, 60, adalah bagian dari sebuah kelompok kecil gerakan feminis Islam yang mencoba mendobrak pemahamanan sesat bahwa perempuan secara tradisional dikecualikan dari peran kepemimpinan dalam masjid. Mereka berpendapat bahwa tidak ada dalam Al Qur'an yang menyebutkan imam perempuan dilarang. Alih-alih mengandalkan para ulama hadis

Lima tahun lalu di Toronto, Raza menerima ancaman pembunuhan setelah memimpin sebuah shalat berjamaah yang makmunnya terdapat laki-laki juga.

"Ini adalah pengalaman yang sangat mendalam," kata Raza. "Ini bukan tentang mengambil alih pekerjaan imam, tapi mengingatkan kjepada kaum Muslim bahwa 50 persen dari penganutnya adalah perempuan. Wanita layak untuk didengar."

Kehadiran Raza di Oxford mengulangi sesi shalat berjamaah serupa pada tahun 2008 yang dipimpin oleh Amina Wadud.

sumber: eramuslim.com

Wednesday, July 21, 2010

Seperti apakah risau kita hari ini?


Hari itu, seseorang menjumpai Umar bin Abdul Aziz. Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian.

“Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati-hati. “Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.

Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, ”Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi?”

Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah subhanahu wataala. Ia pergi untuk selama-lamanya.

Umar bin Abdul Aziz, yang menangis dan terus menangis itu, hanyalah satu contoh dari kisah ’orang-orang risau’. Ya, orang-orang yang selalu punya waktu untuk merasa risau, gundah, dan khawatir.

Bahkan sebagian mereka mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk risau. Risau terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, atau terhadap beban dan tanggung jawab yang dipikulnya.

Paradigma orang yang menemui Umar, dalam kisah di atas, sangat berbeda dengan paradigma Umar, yang tetap saja menangis. Orang itu bertanya heran mengapa Umar masih menangis, karena dalam pandangan dirinya, Umar sudah sangat terkenal keshalihan dan kebajikannya. Umar telah banyak melakukan kebaikan, berlaku adil kepada rakyat. Dan bahkan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang makmur dan damai.

Tetapi Umar tetap menangis. Tangis kerisauan dari seseorang yang mengerti betul bagaimana ia mesti ber-etika di hadapan Tuhannya. Tangis Umar adalah ekspresi kerisauan. Kerisauan seorang penguasa yang memikul tanggung jawab berat. Tanggung jawab memimpin ribuan rakyat. Ia juga tangis seorang yang telah menapaki tangga-tangga hikmah. Yang keluasan ilmu dan amalnya semakin membuatnya merunduk dan merendah.

Kerisauan seorang Umar, adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup orang, sesungguhnya Ia bisa risau. Meski kerisauan setiap orang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan justru di sinilah inti permasalahannya. Ialah bahwa sejarah selalu mencatat, orang-orang besar sepanjang jaman, adalah orang-orang yang punya waktu untuk risau, mengerti mengapa harus risau, dan apa yang mereka risaukan. Sebagian bahkan meniti awal kebesarannya dari awal kerisauannya.

Sebab rasa risau adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lain-lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau.

Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika dan kompetisi, tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.

Dalam pengertian inilah, kita memahami peringatan Allah, bahwa seorang Mukmin, dan bahkan setiap manusia, tidak boleh merasa aman dari adzab Allah. Orang-orang yang merasa aman, tidak pernah merasa risau, tidak punya waktu untuk risau, dan bahkan tidak mengerti mengapa harus risau, adalah orang-orang yang rugi.

Simaklah firman Allah yang artinya, ”Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. " (QS. Al-A’raf: 97 - 99).

Ayat tersebut sedemikian jelas memaparkan, bahwa merasa aman dari adzab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sangat sederhana. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan ia juga tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi besok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia mendapat adzab. Bisa juga ia tidak melakukan kesalahan. Tetapi juga mendapat imbas adzab dari kesalahan yang dilakukan orang lain.



Hidup ini seperti hutan belantara yang sangat lebat. Manusia dan keseluruhan makhluk saling berlomba di dalamnya. Berpacu, beradu, berlomba, atau juga saling bekerjasama. Lebatnya belantara hidup membuat hidup begitu liat, keras, dan kadang harus saling mengalahkan. Dalam seluruh denyut kehidupan itu manusia terikat oleh serabut-serabut panjang dan saling berhimpitan. Ujung serabut itu terikat dengan makhluk-makhluk itu. Sedang pangkalnya ada dalam genggaman tangan-tangan Allah. Serabut-serabut itu adalah kekuasaan Allah, yang dari sana lahir takdir-takdir bagi keseluruhan hidup manusia.

Maka, rasa risau, dalam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber-sumber yang memberi rasa aman. Dan, sumber utama rasa aman itu adalah Allah. Yang Maha Kuat lagi Maha Melindungi. Karenanya, orang-orang seperti Umar sangat memahami betapa risau haginya adalah sebuah proses produktif seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ia risau dan karenanya ia menangis. Ia menangis dan karenanya ia berharap.

Kita, di sini, sekumpulan orang-orang yang tak akan sampai menyamai Umar bin Abdul Aziz, apalagi melampaui, semestinya menjadi orang-orang yang akhirnya mengerti darimana sebuah kebesaran dimulai. Bahkan, sebuah harapan, ternyata, mula-mula adalah segumpal risau.

Salah satu kebutuhan penting dalam hidup, adalah merisaukan diri. Ia semacam rumah-rumah kecil untuk persinggahan, bagi keseluruhan alur dan aliran semangat serta gelora hidup kita. Sebuah risau adalah tali penyeimbang antara menengok ke belakang dan berhati-hati menatap ke depan.

Maka seperti apakah risau kita hari ini?