Tuesday, July 6, 2010

Lima Bab Singkat

BAB I
aku sedang berjalan. ada lubang yang dalam di tepinya. aku terperosok. aku tak berdaya. itu bukan salahku. lama sekali baru aku bisa ke luar.

BAB II
aku sedang di jalan yang sama. ada lubang yang dalam di tepinya. aku pura-pura tidak melihatnya. lagi-lagi aku terperosok. tidak kusangka aku berada di tempat yang sama lagi. tapi itu bukan salahku. masih saja lama sekali baru aku ke luar.

BAB III
aku sedang di jalan yang sama. ada lubang yang dalam di tepinya. aku melihatnya. tapi tetap saja aku terperosok. sudah jadi kebiasaan. sekarang mataku terbuka. aku tahu di mana aku berada. ini salahku. akupun segera ke luar

BAB IV
aku sedang di jalan yang sama. ada lubang yang dalam di tepinya. aku menghindarinya

BAB V
aku melewati jalan lainnya.

dikutip dari There's a Hole in My Sidewalk karya Portia Nelson.


Siapa Aku?

Aku adalah teman tetapmu
aku adalah penolongmu yang terbesar
atau bebanmu yang terberat
aku akan mendorongmu maju atau menyeretmu menuju kegagalan
Aku sepenuhnya tunduk kepada perintahmu
sebagian hal yang aku lakukan mungkin sebaiknya
kamu serahkan saja padaku, maka
aku akan melakukannya dengan cepat dan tepat

aku mudah diatur, tugasmu tegas kepadaku
tunjukan kepadaku, bagaimana seharusnya
kamu ingin sesuatu itu dilaksanakan
dan setelah beberapa kali belajar aku akan melakukannya
dengan otomatis.


aku adalah hamba dari semua insan besar
dan sayangnya, juga hamba dari semua pecundang.
mereka yang besar, telah kujadikan besar
mereka yang gagal, telah aku jadikan pecundang

aku bukan mesin, walaupun aku bekerja dengan ketetapan
seperti mesin ditambah intilijensi manusia
kamu bisa menjalankan aku demi keuntungan
atau demi kehncuran.
semua itu tak ada bedanya bagiku

ambillah aku, latihlah aku, tegaslah terhadapku
maka aku akan meletakkan dunia di kakimu
bersikaplah terhadapku maka aku akan mengkancurkanmu.


Siapakah Aku

Friday, June 25, 2010

Potret Jakarta di 483


22 Juni lalu, Jakarta berulang tahun (berkurang umur mungkin lebih tepatnya) yang ke 482. meskipun tanggal tersebut masih menjadi perdebatan di antara para sejarahwan, tapi Pemerintah DKI JAkarta tetap menetapkan bahwa tanggal 22 Juni sebagai hari ulang tahun kota Jakarta.

untuk menyambut ulang tahun ibu kota ini, seperti biasa dibukia Pekan Raya Jakarta atau PRJ yang diadakan di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. semakin tua usia Jakarta, semakin banyak dan meriah cara para penghuninya untuk merayakan ulang tahunnya. tapi apakah ada sedikit saja rasa bagi mereka termasuk saya untuk memperbaiki apa yang ada di dalamnya?

miris rasanya saat kita berjalan selalu ada seorang pengemis yang menghampiri. di setiap lampu merah, kini kita tak luput dari sapaan tangan yang menengadah di hadapan kendaraan kita. mereka beragam. ada tua, ada muda. ada yang berjalan dengan kaki yang terserok-serok, ada pula yang berjalan dengan tangan yang menggelayutkan badan. ada yang menggendong bayi atau anaknya, ada pula yang menggendong ayah atau ibunya. ada yang bernyanyi, ada juga yang berpuisi. hm.. semuanya sudah saya temui di kota tercinta ini.

Jakarta. di usianya yang kian renta, semuanya berubah. dulu, ketika saya bepergian, yang ada hanya pohon-pohon besar dan jarak gedung-gedung megah yang berjauhan. tai sekarang? semua dibuat apartemen, setiap berjalan, pantulan cahaya matahari oleh kaca-kaca gedung saling bertabrakanh. di mana-mana macet. di mana-mana banjir. di mana-mana ada saja kejutan dari penghuninya. dan yang sedang gencar di daerah tempat saya tinggal sekarang, di mana-mana pusat pembelanjaan.


Jakarta, oh Jakarta. mengapa Bunda tak lagi bijaksana?